Archive for the ‘Pedagogik’ Category

Desember 17, 2008

PROSEDUR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL (PPSI)

A. Definisi
PPSI adalah sistem yang saling berkaitan dari satu instruksi yang terdiri atas urutan, desain tugas yang progresif bagi individu dalam belajar (Hamzah B.Uno, 2007). Oemar Hamalik (2006) mendefinisikan PPSI sebagai pedoman yang disusun oleh guru dan berguna untuk menyusun satuan pelajaran.

B. Komponen
Komponen-komponen yang terdapat dalam PSSI adalah sebagai berikut.
1. Pedoman perumusan tujuan
Pedoman perumusan tujuan memberikan petunjuk bagi guru dalam merumuskan tujuan-tujuan khusus. Perumusan tujuan khusus itu berdasarkan pada pendalaman dan analisis terhadap pokok-pokok bahasan/ subpokok bahasan yang telah digariskan untuk mencapai tujuan instruksional dan tujuan kurikuler dalam GBPP.

Diagram tujuan instruksional khusus (TIK)
Hirarki tujuanpendidikan Hirarki penjenjangan sekolah dan keluasan materi pelajaran
Tujuan pendidikan nasional â Tujuan pendidikan institusinalâ Tujuan pendidikan Kurikulerâ Tujuan intrusional umum (TIU)â Tujuan intruksional khusus (TIK) Seluruh usaha pendidkan masyarakat Indonesia Berkaitan dengan jenis dan jenjang pendidikan formalApa yang akan dicapai lewat bidang studi tertentu.Apa yang akan dicapai dalam pembahasan tertentu.Apa yang akan dicapai dalam pembahasan topik pelajaran atau satuan bahasan tertentu.

2. Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian
Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian memberikan petunjuk tentang prosedur penilaian yang akan ditempuh, tentang tes awal (pre test) dan tes akhir (post test), tentang jenis tes yang akan digunakan dan tentang rumusan soal-soal tes sebagai bagian dari satuan pelajaran. Tes yang digunakan dalam PPSI disebut criterion referenced test yaitu tes yang digunakan unuk mengukur efektifitas program/ pelaksanaan pengajaran.

3. Pedoman proses kegiatan belajar siswa
Pedoman proses kegiatan belajar siswa merupakan petunjuk bagi guru untuk menetapkan langkah-langkah kegiatan belajar siswa sesuai dengan bahan pelajaran yang harus dikuasai dan tujuan khusus instruksional yang harus dicapai oleh para siswa.
Dalam menentukan metode atau alat bantu pengajaran yang akan dipakai untuk mencapai tujuan (TIK), para guru dan calon guru dituntut:
a. Menyadari bahwa TIK dan sifat bahan adalah dasar untuk menentukan metode dan alat bantu pengajaran.
b. Guru menguasai berbagai metode secara fungsional misalnya metode ceramah, diskusi, dll.
c. Mempertimbangkan fasilitas yang ada.
d. Setiap pelaksanaan metode pengajaran harus mempertimbangkan kondisi situasi murid dan berusaha untuk aktivitas belajarnya.
e. Apakah guru tersebut benar-benar mampu melaksanakan metode beserta alat bantu pengajaran yang dipilihnya.

4. Pedoman program kegiatan guru
Pedoman program kegiatan guru merupakan petunjuk-petunjuk bagi guru untuk merencanakan program kegiatan bimbingan sehingga para siswa melakukan kegiatan sesuai dengan rumusan TIK. Dalam hubungan ini guru perlu:
a. Merumuskan materi pelajaran secara terperinci
Hal ini dimaksudkan agar guru mampu menjabarkan materi pelajaran secara:
1) jelas kegunaannya untuk mencapai TIK;
2) sesuai dengan pengalaman murid;
3) terjamin kebenaran ilmiahnya;
4) mampu mengikuti perkembangan ilmu tersebut;
5) representatif; dan
6) dan berguna bagi kehidupan murid sehari-hari.
b. Memilih metode-metode yang tepat
Guru menentukan lamanya waktu pelajaran berdasarkan keberagaman isi TIK dan tingkat kesukaran materi pelajaran. Guru juga dituntut untuk mempertimbangkan jenis metode serta alat bantu pengajaran yang dipilih.
c. Menyusun jadwal secara terperinci.
Sebelum melangkah ke pelaksanaan, satuan pelajaran sebagai persiapan tulis lengkap harus telah selesai disusun.

5. Pedoman pelaksanaan program
Pedoman pelaksanaan program merupakan petunjuk-petunjuk dari program yang telah disusun. Petunjuk-petunjuk itu berkenaan dengan dimulainya pelaksanaan tes awal dilanjutkan dengan penyampaian materi pelajaran sampai pada dilaksanakannya penilaian hasil belajar.
Langkah ini terdiri dari 3 macam kegiatan, ialah:
a.Mengadakan pre-test
Tes yang kita berikan pada siswa adalah tes yang disusun pada langkah kedua. Fungsi dari pre-test ini untuk menilai sampai di mana siswa telah menguasai keterampilan yang tercantum dalam TIK.
b. Penyampaian materi pelajaran
Guru menyampaikan materi pelajaran kepada murid/guru membimbing murid untuk mendalami dan mengusai materi pelajaran.
c. Mengadakan evaluasi
Post-test yang telah disusun pada langkah kedua diberikan pada murid-murid setelah mereka mengikuti program pelajaran.

Diagram evaluasi

Pre-test guru bersama murid mendalami post-test
Tujuan

Menguasai materi pelajaran

· Pre-test
Bertujuan untuk menilai kemampuan murid yang tercantum dalam TIK. Sebelum mereka mengikuti program pengajaran (secara praktis pre-test untuk menilai kemampuan murid mengenai penguasaan materi palajaran sebelum mereka dibimbing guru menguasai materi pelajaran yang telah diprogramkan).
· Post-test
Berfungsi untuk menilai kemampuan-kemampuan murid setelah pengajaran diberikan. Post-test digunakan untuk menilai efektifitas pengajaran.

6.Pedoman Perbaikan atau Revisi
Pedoman perbaikan atau revisi yang merupakan pengembangan program setelah selesai dilaksanakan. Perbaikan dilakukan berdasarkan umpan balik yang diperoleh berdasarkan hasil penilaian akhir.

C. Prosedur
Oemar Hamalik (2006) menggambarkan prosedur penyusunan PPSI sebagai berikut.
Diagram PPSI

D. Kriteria Pembuatan Model Satuan Pelajaran
Kriteria ini dimaksudkan sebagai pedoman pembuatan dan penilaian Model Satuan Pelajaran (MSP), yang perlu dilakukan oleh setiap calon guru/ guru dalam rangka melaksanakan PPSI. Beberapa kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut.
1. Apakah pokok bahasan dan subpokok bahasan telah diidentifikasi dan dijadikan dasar dalam menentukan “Satuan Bahasan” yang akan diajarkan?
2. Kelas berapa dan berapa lama pengajaran itu akan diberikan?
3. Apakah telah dirumuskan tujuan instruksional umum (TIU) yang bersumber dari TIU dalam GBHN?
4. Apakah tujuan instruksional khusus (TIK) telah dirumuskan secara spesifik, operasional, jelas, relevan, dan berdasarkan TIU?
5. Apakah materi pelajaran telah diperinci sedemikian rupa berdasarkan bahan pengajaran dalam GBPP dan tujuan khusus yang hendak dicapai?
6. dst.

E. Bentuk Satuan Pelajaran
Bentuk kegiatan-kegiatan dari Satuan Pelajaran (TIU, TIK, Materi Pelajaran, dll) dapat disusun secara horizontal atau vertikal. Oemar Hamalik (2007) menetapkan bentuk vertikal setelah didasarkan pertimbangan praktis. Bentuk satuan pelajaran yang dimaksud adalah sebagai berikut.

F. Contoh PPSI
Topik : Apa itu unsur-unsur intrinsik
TIK : Siswa mampu menemukan unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam novel / cerpen

Pengembangan alat evaluasi
1. Penggalan naskah cerpen / novel
2. Video rekaman pembacaan cerpen / novel
3. Rumusan pertanyaan / tes
4. dll.

Bahan Satuan Bahasan
1. Menyimak
2. Diskusi
3. Permainan

Pengembangan Satuan Bahasan
1. Memperkenalkan sastra kepada siswa
2. Memberikan materi tentang unsur-unsur intrinsik / materi yang kita berikan
3. Melatih siswa menentukan unsur intrinsik dari video yang diberikan.

Pelaksanaan Program
1. Menggunakan Pre-test
2. Menggunakan Post-test
3. Remidial

Bentuk Satuan Pelajaran

Bidang studi : …………………………………………………………………………..
Subbidang studi : …………………………………………………………………………..
Satuan Bahasan : …………………………………………………………………………..
Semester : …………………………………………………………………………..
Waktu : …………………………………………………………………………..

I. Tujuan Intruksional Umum
………………………………………..
………………………………………..

II. Tujuan Intruksional Khusus
…………………………………………
………………………………………..
dst.

III. Materi Pelajaran
1. ……………………………………
1.1. ………………………..
1.2. ………………………..
2. …………………………………..
2.1. ………………………..
2.2. ………………………..
dst.

IV. Kegiatan Belajar Mengajar
1. Metode
2. Pokok-pokok kegiatan

Siswa Guru
1. ……………………………… 1. ………………………………..
2. …………………………….. 2. …………………………………

V. Alat-alat Pelajaran dan Sumber
1. Alat pelajaran
1.1. …………………………..
1.2. ……………………………
2. Sumber bahan
2.1. ………………………….
2.2. ………………………….
2.3. ………………………….

VI. Evaluasi
1. Prosedur
1.1. …………………………
1.2. ………………………..
1.3. ………………………..
2. Alat evaluasi (jenis tes)
2.1. ….…………………….
2.2. ………………………..
3. Soal-soal tes.

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Prof. Dr. Oemar. 2006. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta : Bumi Aksara.

Uno, Dr. Hamzah B. M.Pd., 2007. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Samana, 1982. Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional. Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma.

PROSEDUR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL (PPSI)

November 4, 2008

PROSEDUR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL (PPSI)

A. Definisi
PPSI adalah sistem yang saling berkaitan dari satu instruksi yang terdiri atas urutan, desain tugas yang progresif bagi individu dalam belajar (Hamzah B.Uno, 2007). Oemar Hamalik (2006) mendefinisikan PPSI sebagai pedoman yang disusun oleh guru dan berguna untuk menyusun satuan pelajaran.

B. Komponen
Komponen-komponen yang terdapat dalam PSSI adalah sebagai berikut.
1. Pedoman perumusan tujuan
Pedoman perumusan tujuan memberikan petunjuk bagi guru dalam merumuskan tujuan-tujuan khusus. Perumusan tujuan khusus itu berdasarkan pada pendalaman dan analisis terhadap pokok-pokok bahasan/ subpokok bahasan yang telah digariskan untuk mencapai tujuan instruksional dan tujuan kurikuler dalam GBPP.

Diagram tujuan instruksional khusus (TIK)
Hirarki tujuanpendidikan Hirarki penjenjangan sekolah dan keluasan materi pelajaran
Tujuan pendidikan nasional â Tujuan pendidikan institusinalâ Tujuan pendidikan Kurikulerâ Tujuan intrusional umum (TIU)â Tujuan intruksional khusus (TIK) Seluruh usaha pendidkan masyarakat Indonesia Berkaitan dengan jenis dan jenjang pendidikan formalApa yang akan dicapai lewat bidang studi tertentu.Apa yang akan dicapai dalam pembahasan tertentu.Apa yang akan dicapai dalam pembahasan topik pelajaran atau satuan bahasan tertentu.

2. Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian
Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian memberikan petunjuk tentang prosedur penilaian yang akan ditempuh, tentang tes awal (pre test) dan tes akhir (post test), tentang jenis tes yang akan digunakan dan tentang rumusan soal-soal tes sebagai bagian dari satuan pelajaran. Tes yang digunakan dalam PPSI disebut criterion referenced test yaitu tes yang digunakan unuk mengukur efektifitas program/ pelaksanaan pengajaran.

3. Pedoman proses kegiatan belajar siswa
Pedoman proses kegiatan belajar siswa merupakan petunjuk bagi guru untuk menetapkan langkah-langkah kegiatan belajar siswa sesuai dengan bahan pelajaran yang harus dikuasai dan tujuan khusus instruksional yang harus dicapai oleh para siswa.
Dalam menentukan metode atau alat bantu pengajaran yang akan dipakai untuk mencapai tujuan (TIK), para guru dan calon guru dituntut:
a. Menyadari bahwa TIK dan sifat bahan adalah dasar untuk menentukan metode dan alat bantu pengajaran.
b. Guru menguasai berbagai metode secara fungsional misalnya metode ceramah, diskusi, dll.
c. Mempertimbangkan fasilitas yang ada.
d. Setiap pelaksanaan metode pengajaran harus mempertimbangkan kondisi situasi murid dan berusaha untuk aktivitas belajarnya.
e. Apakah guru tersebut benar-benar mampu melaksanakan metode beserta alat bantu pengajaran yang dipilihnya.

4. Pedoman program kegiatan guru
Pedoman program kegiatan guru merupakan petunjuk-petunjuk bagi guru untuk merencanakan program kegiatan bimbingan sehingga para siswa melakukan kegiatan sesuai dengan rumusan TIK. Dalam hubungan ini guru perlu:
a. Merumuskan materi pelajaran secara terperinci
Hal ini dimaksudkan agar guru mampu menjabarkan materi pelajaran secara:
1) jelas kegunaannya untuk mencapai TIK;
2) sesuai dengan pengalaman murid;
3) terjamin kebenaran ilmiahnya;
4) mampu mengikuti perkembangan ilmu tersebut;
5) representatif; dan
6) dan berguna bagi kehidupan murid sehari-hari.
b. Memilih metode-metode yang tepat
Guru menentukan lamanya waktu pelajaran berdasarkan keberagaman isi TIK dan tingkat kesukaran materi pelajaran. Guru juga dituntut untuk mempertimbangkan jenis metode serta alat bantu pengajaran yang dipilih.
c. Menyusun jadwal secara terperinci.
Sebelum melangkah ke pelaksanaan, satuan pelajaran sebagai persiapan tulis lengkap harus telah selesai disusun.

5. Pedoman pelaksanaan program
Pedoman pelaksanaan program merupakan petunjuk-petunjuk dari program yang telah disusun. Petunjuk-petunjuk itu berkenaan dengan dimulainya pelaksanaan tes awal dilanjutkan dengan penyampaian materi pelajaran sampai pada dilaksanakannya penilaian hasil belajar.
Langkah ini terdiri dari 3 macam kegiatan, ialah:
a. Mengadakan pre-test
Tes yang kita berikan pada siswa adalah tes yang disusun pada langkah kedua. Fungsi dari pre-test ini untuk menilai sampai di mana siswa telah menguasai keterampilan yang tercantum dalam TIK.
b. Penyampaian materi pelajaran
Guru menyampaikan materi pelajaran kepada murid/guru membimbing murid untuk mendalami dan mengusai materi pelajaran.
c. Mengadakan evaluasi
Post-test yang telah disusun pada langkah kedua diberikan pada murid-murid setelah mereka mengikuti program pelajaran.

Diagram evaluasi

Pre-test guru bersama murid mendalami post-test
Tujuan

Menguasai materi pelajaran

· Pre-test
Bertujuan untuk menilai kemampuan murid yang tercantum dalam TIK. Sebelum mereka mengikuti program pengajaran (secara praktis pre-test untuk menilai kemampuan murid mengenai penguasaan materi palajaran sebelum mereka dibimbing guru menguasai materi pelajaran yang telah diprogramkan).
· Post-test
Berfungsi untuk menilai kemampuan-kemampuan murid setelah pengajaran diberikan. Post-test digunakan untuk menilai efektifitas pengajaran.

6. Pedoman perbaikan atau revisi
Pedoman perbaikan atau revisi yang merupakan pengembangan program setelah selesai dilaksanakan. Perbaikan dilakukan berdasarkan umpan balik yang diperoleh berdasarkan hasil penilaian akhir.

C. Prosedur
Oemar Hamalik (2006) menggambarkan prosedur penyusunan PPSI sebagai berikut.
Diagram PPSI

D. Kriteria Pembuatan Model Satuan Pelajaran
Kriteria ini dimaksudkan sebagai pedoman pembuatan dan penilaian Model Satuan Pelajaran (MSP), yang perlu dilakukan oleh setiap calon guru/ guru dalam rangka melaksanakan PPSI. Beberapa kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut.
1. Apakah pokok bahasan dan subpokok bahasan telah diidentifikasi dan dijadikan dasar dalam menentukan “Satuan Bahasan” yang akan diajarkan?
2. Kelas berapa dan berapa lama pengajaran itu akan diberikan?
3. Apakah telah dirumuskan tujuan instruksional umum (TIU) yang bersumber dari TIU dalam GBHN?
4. Apakah tujuan instruksional khusus (TIK) telah dirumuskan secara spesifik, operasional, jelas, relevan, dan berdasarkan TIU?
5. Apakah materi pelajaran telah diperinci sedemikian rupa berdasarkan bahan pengajaran dalam GBPP dan tujuan khusus yang hendak dicapai?
6. dst.

E. Bentuk Satuan Pelajaran
Bentuk kegiatan-kegiatan dari Satuan Pelajaran (TIU, TIK, Materi Pelajaran, dll) dapat disusun secara horizontal atau vertikal. Oemar Hamalik (2007) menetapkan bentuk vertikal setelah didasarkan pertimbangan praktis. Bentuk satuan pelajaran yang dimaksud adalah sebagai berikut.

F. Contoh PPSI
Topik : Apa itu unsur-unsur intrinsik
TIK : Siswa mampu menemukan unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam novel / cerpen

Pengembangan alat evaluasi
1. Penggalan naskah cerpen / novel
2. Video rekaman pembacaan cerpen / novel
3. Rumusan pertanyaan / tes
4. dll.

Bahan Satuan Bahasan
1. Menyimak
2. Diskusi
3. Permainan

Pengembangan Satuan Bahasan
1. Memperkenalkan sastra kepada siswa
2. Memberikan materi tentang unsur-unsur intrinsik / materi yang kita berikan
3. Melatih siswa menentukan unsur intrinsik dari video yang diberikan.

Pelaksanaan Program
1. Menggunakan Pre-test
2. Menggunakan Post-test
3. Remidial

Bentuk Satuan Pelajaran

Bidang studi : …………………………………………………………………………..
Subbidang studi : …………………………………………………………………………..
Satuan Bahasan : …………………………………………………………………………..
Semester : …………………………………………………………………………..
Waktu : …………………………………………………………………………..

I. Tujuan Intruksional Umum
………………………………………..
………………………………………..

II. Tujuan Intruksional Khusus
…………………………………………
………………………………………..
dst.

III. Materi Pelajaran
1. ……………………………………
1.1. ………………………..
1.2. ………………………..
2. …………………………………..
2.1. ………………………..
2.2. ………………………..
dst.

IV. Kegiatan Belajar Mengajar
1. Metode
2. Pokok-pokok kegiatan

Siswa Guru
1. ……………………………… 1. ………………………………..
2. …………………………….. 2. …………………………………

V. Alat-alat Pelajaran dan Sumber
1. Alat pelajaran
1.1. …………………………..
1.2. ……………………………
2. Sumber bahan
2.1. ………………………….
2.2. ………………………….
2.3. ………………………….

VI. Evaluasi
1. Prosedur
1.1. …………………………
1.2. ………………………..
1.3. ………………………..
2. Alat evaluasi (jenis tes)
2.1. ….…………………….
2.2. ………………………..
3. Soal-soal tes.

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Prof. Dr. Oemar. 2006. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta : Bumi Aksara.

Uno, Dr. Hamzah B. M.Pd., 2007. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Samana, 1982. Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional. Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma.

MODEL PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN

November 4, 2008

MODEL PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN
MODEL DICK & CARREY

I. Pendahuluan
Pengembangan perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan yang telah ada.
Sebagai seorang tenaga pengajar ( guru), aktivitas kegiatannya tidak dapat dilepaskan dengan proses pengajaran. Sementara proses pengajaran merupakan suatu proses yang sistematis, yang tiap komponennya sangat menentukan keberhasilan belajar anak didik.
Demikian pula hanya sitem mata pelajaran tertentu, tujuan sistem-sistem itu adalah untuk menimbulkan belajar (learning) yang komponen belajarnya meliputi, peserta didik atau siswa, instruktur, pendidik (guru), materi pelajaran, dan lingkungan pengajaran ( Uno, Hamzah, 2006:22 ).
Modal perencanaan pengajaran Dick & Carrey, berorientasi pada dua hal yaitu, pengetahuan dan hasil. Pengetahuan dipakai sebagai sumber informasi tentang konsep-konsep, prinsip-prinsip rancangan instruksional dan langkah-langkahnya, sedangkan untuk memperoleh hasil yang memuaskan perlu dilakukan evaluasai berulang kali.
Sama seperti model-model pengembangan lainnya, model Dick & Carrey juga menerapkan model pendekatan sistem untuk perancangan instruksionalnya. pendekatan ini merupakan cara untuk memandang sesuatu secara menyeluruh dan sistematik. dalam menentukan tujuan instruksionalnya, model Dick & Carrey menyebutkan ada empat sumber, yaitu kurikulum lembaga pendidikan yang bersangkutan, pendapat ahli bidang, hasil analisis tugas, dan hasil observasi (Soekamto, Toeti. 1993:45)

II. Langkah-Langkah Penerapan Pendekatan Sistem Untuk Perancangan Sistem Instruksional Model Dick & Carrey
Berbagai model dapat dikembangkan dalam mengorganisisr pengajaran. Satu diantara model itu adalah model Dick And Carrey (1985 via Uno, 2008:23).Model Dick And Carrey digolongkan sebagai model yang berorentasi pada dua hal, yaitu:
1. pengetahuan, model tersebut dipakai sebagai sumber informasi tentang konsep-konsep, prinsip-prinsip perangcangan intruksional dan langkah-langkahnya.
2. hasil, menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip perancangan yang menghasilkan suatu bahan intruksional yang dapat dipakai belajar secara mandiri tanpa bantuan guru. Disini pun evaluasi dilaksanakan berulang kali sampai dapat memperoleh hasil yang memuaskan
Dick And Carrey menerapkan pendekatan sistem untuk perancangan sistem intruksional dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi Tujuan Pembelajaran( Tujuan utama atau terminal)
Tujuan utama atau terminal menyatakan apa yang dapat dilakukan oleh siswa setelah mengikuti program-program intruksional tersebut. Sumber penentuan tujuan dapat bersumber dari penilaian kebutuhan, tujuan-tujuan yang ada, pengalaman praktis dengan siswa yang mengalami kesulitan belajar, analisis suatu tugas dan sebagainnya.Di sisni tujuan terminal perlu dinyatakan dalam bentuk yang dapat dilihat dan diukur seperti yang dinyatakan oleh Mager. Hal ini untuk mempermudah pengukuran keberhasilan siswa mencapai tujuan intruksional tersebut.
2. Melakukan Analisis Pembelajaran
Menentukan macam atau jenis belajar apa yang akan dipelajari siswa berdasarkan kalsifikasi Gagne ( lima macam belajar). Tujuan terminal di analisis dan dipecah-pecah menjadi kettrampilan-ketrampilan yang perlu dipelajari siswa dalam usaha mencapai tujuan akhir.
3. Mengidentifikasi kemampaun awal dan karakteristik Siswa (mengenali tingkah laku masukan dan ciri-ciri siswa)
Menentukan ketrampilan-ketrampilan apa yang harus sudah dilakukan oleh siswa agar dapat mengikuti program intruksional dengan baik. Perlu diketahui adanya beberapa karakterristik siswa yang dapat mempengaruhi keberhasilannya misal, tingkat pendidikan, motivasi, tingkat intelektual status sosial ekonomi, dan sebagainnya.

4. Merumuskan Tujuan Intruksional Khusus (TIK) atau merumuskan tujuan performansi
Atas dasar analisis pembelajaran dan keterangan tentang tingkah laku masukan, selanjutnya menyusun pernyataan spesifik tentang apa yang akan mampu dilakukan siswa ketika menyelesaikan pembelajaran. Pernyataan yang dijabarkan dari keterampilan-keterampilan yang dikenali dengan jalan melakukan analisis pembelajaran ini perlu menyebutkan keterampilan-keterampilan yang harus dipelajari (dikuasai) siswa, kondisi perbuatan yang menunjukan keterampilan itu, dan kreteria bagi unjuk perbuatan (performansi) yang berhasil.
Menurut Dick and Carrey ( 1985 dalam Uno, Hamzah, 2007: 27) menyatakan bahwa tujuan performansi terdiri dari:
a. Tujuan harus menguraikan apa yang akan dikerjakan, atau diperbuat oleh anak didik.
b. Menyebutkan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat, yang hadir pada waktu anak didik berbuat.
c. Menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang dimaksudkan pada tujuan.
Menurut Gagne, Briggs, dan Mager menjelaskan bahwa fungsi performansi objektif adalah:
a. menyediakan suatu sarana dalam kaitannya dengan pembelajaran untuk mencapai tujuan;
b. menyediakan suatu sarana berdasarkan suatu kondisi belajar yang sesuai;
c. memberikan arah dalam mengembangakan dalam pengukuran atau penilaian;
d. membantu anak didik dalam usaha belajarnya.
5. Pengembangan Butir-Butir tes Berdasarkan Acuan Patokan.
Pengembangan butir-butir tes berdasarkan acuan patokan yang digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa telah mencapai tujuan instruksional. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membandingkan penampilan siswa dalam pengujian dengan patokan yang telah ditentukan sebelumnya. Tes acuan patokan disebut juga tes acuan tujuan.
Bagi seorang perancang pembelajaran harus mengembangkan butir tes acuan patokan, karena hasil tes pengukuran tersebut berguna untuk:
(a). mendiagnosis dan menempatkan dalam kurikulum;
(b). menceking hasil belajar dan kesalahan pengertian sehingga dapat diberikan pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutkan;
(c). menjadi dokumen kemajuan belajar.
Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan Dick and Carrey ( 1985) merekomendasikan empat macam tes acuan patokan, yaitu:
(1). test antry behaviors atau tes untuk mengukur kemampuan awal, yang merupakan prasyarat bagi program instruksional tersebut. Kadang-kadang tes ini tidak perlu, khususnya bila diyakini bahwa prograrn tersebut merupakan sesuatu yang baru bagi siswa yang akan mengikuti. Atau apabila program tersebut memeng tidak memerlukan suatu prasyarat tertentu.
(2). pretest atau tes awal merupakan tes acuan patokan yang berguna untuk mengukur sejauh mana siswa telah menguasai materi yang akan diajarkan. Bila program tersebut merupakan sesuatu yang baru, maka tes inipun dapat ditiadakan. Maksud dari pretes ini bukanlah untuk menentukan nilai akhir tetapi lebih mengenal profil anak didik berkenaan analisis pembelajaran.
(3). tes selama siswa sedang dalam proses belajar (Uno, 2007: 28, tes tersebut tes sisipan). tes ini berfungsi untuk melihat apakah siswa memang telah dapat menangkap apa yang sedang dibicarakan. Tes ini diadakan setelah materi selesai diberikan.
(4). Tes akhir atau pasca tes. Merupakan tes acuan patokan yang mencakup pengukuran semua tujuan intruksional khusus yang ada terutama tujuan intruksional yang bersifat terminal. Dengan tes ini dapat diketahui bagian-bagian mana diantara pembelajaran yang belum dicapai.
6. Pengembangan Srategi Intruksional ( siasat pembelajaran).
Dalam strategi pembelajaran, menjelaskan komponen umum suatu perangkat meterial suatu pembelajaran dan mengembangkan materi secara prosedural haruslah berdasarkan karakteristik siswa, karena material pembelajaran yang dikembangkan, pada akhirnya dimaksudkan untuk membantu siswa untuk memperoleh kemudahan dalam belajar. Dick and Carrey (1985) dalam (Uno, 2007: 29), mengemukakan bahwa dalam merencanakan satu unit pembelajaran ada tiga tahap, yaitu:
(a). mengurutkan dan merumpunkan tujuan ke dalam pembelajaran,
(b). merencanakan pembelajaran, pengetesan dan kegiatan tindak lanjut,
(c). menyusun alokasi waktu berdasarkan strategi pembelajaran.
Dengan mengurutkan tujuan kedalam pembelajaran dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakana bagi si pembelajar. Ada lima komponen strategi pembelajaran, yaitu:
(1). kegiatan pra pembelajaran.
Kegiatan ini dianggap penting karena dapat memotifasi anak didik. Pemberitahuan tentang tujuan intruksional apa yang harus dicapai siswa setelah mengikuti program tersebut juga tentang keterampilan atau kemampuan yang merupakan prasyarat untuk mempelajari program.
(2). penyajian informasi.
Dengan penyajian informasi, anak didik menjadi tahu sejauh mana materi pembelajaran yang harus mereka pelajari, disajikan sesuai urutannya, keterlibatan mereka dalam setiap kegiatan pembelajaran.
(3). Partisipasi atau peran serta siswa.
Dalam hal ini anak didik harus diberi kesempatan berlatih atau terlibat dalam setiap langkah pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran. Semakin banyak keterlibatan anak didik dalam pembelajaran maka akan semakin baik perolehan belajar anak didik tersebut.

(4). Pengetesan.
Pengetesan dilakukan untuk memberikan umpan balik kepada pengajar untuk memperbaiki, merevisi baik materi pembelajaran, strategi, maupun strategi pengetesan.
(5). Kegiatan tindak lanjut.
Aktivitas ini menyangkut pertanyaan-pertanyaan apakah perlu ada bahan remidial? Strategi apakah yang diperlukan? Apakah perlu bahan pengayaan? Aktvitas ini dirancang setelah diperoleh umpan balik dari hasil uji coba di lapangan.
7. Perancangan Intrusional ( Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran).
Dick and Carrey menyarankan ada tiga pola yang dapat digunakan pengajar untuk merancang atau menyampaikan pembelajaran, yaitu:
(a). pengajar merancang bahan pebelajaran individual, semua tahap pembelajaran dimasukkan, kecuali pretes dan postes.
(b). pengajar memilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai dengan strategi pembelajaran.
(c). pengajar tidak memakai bahan, tetapi menyampaikan semua pembelajaran menurut stategi pembelajaran yang telah disusunnya.
Kebaikan stategi ini adalah pengajar dapat dengan segera memperbaiki dan memperbaharui pembelajaran bila terjadi perubahan isi adapun kelemahannya adalah sebagaian waktu tersita untuk menyampaikan informasi, sehingga sedikit sekali waktu membantu anak didik.
8. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Formatif
Hal ini dilakukan karena evalasi ini merupakan salah satu langkah dalam mengembangkan desain pembelajaran yang bertugas untuk mengumpulkan data dan untuk perbaikan pembelajaran. Ada tiga fase penilaian formatif, yaitu:
a. Fase perorangan atau fase klinis. Pada fase ini perancang bekerja dengan siswa secara perseorangan untuk memperoleh data guna menyempurnakan bahan pembelajaran.
b. Fase kelompok kecil, terdiri atas delapan sampai sepuluh orang yang merupakan wakil cerminan populasi sasaran mempelajari bahan secara mandiri, dan kemudian diuji untuk memperoleh data yang diperlukan.
c. Fase uji lapangan.
9. Merevisi Bahan Pembelajaran
Hal ini dilakukan untuk menyempurnakan bahan pembelajaran sehingga lebih menarik, efektif bila digunakan dalam keperluan pembelajaran, sehingga memudahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dick and Carrey (1985) mengemukan ada dua revisi yang perlu dipertimbangkan yaitu:
a. Revisi terhadap isi atau subtansi bahan pembelajaran agar lebih cermat sebagai alat belajar.
b. Revisi terhadap cara-cara yang dipakai dalam menggunakan bahan pembelajaran.
Untuk keperluan bahan pembelajaran ada empat macam keterangan pokok yang menjadi sumber dalam melakukan revisi, yaitu:
a) Ciri anak didik dan tingkah laku masukan
b) Tanggapan langsung terhadap pembelajaran termasuk tes sisipan.
c) Hasil pembelajaran paska tes.
d) Jawaban terhadap kuesioner.
10. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif
Melalui evaluasi sumatif dapat ditetapkan atau diberikan nilai, apakah suatu desain pembelajaran, dimana dasar keputusan penilaian didasarkan pada keafektifan dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, evaluasi sumatif diarahan pada keberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, yang diperlihatkan oleh unjuk kerja siswa (Uno, Hamzah. 2007:32-33).

III. Perbedaan Model Dick and Carrey dengan Model Kemp, dan PPSI.

Perbedaan
No Dick and Carrey PPSI Kemp
1 Berorentasi pada tujuan dan hasil pembelajaran Berorentasi pada tujuan pembelajaran Berorentasi pada tujuan, evaluasai, dan sumber pembelajaran
2 Menuntut karakteristik siswa, bidang studi, dan kondisi lapangan Tidak menuntut adanya karakteristik siswa Menuntut adanya karakteristik siswa
3 Revisi berlaku untuk semua komponen kecuali evaluasi sumatif Revisi berlaku untuk keseluruhan komponen satuan pembelajaran Revisi hanya pada sebagian sistem (komponen tertentu)

IV. Kelebihan model Dick and Carrey
Model Dick and Carrey mempunyai beberapa kelebihan, yaitu;
a. Model ini cocok bagi pemula, karena setiap langkah mempunyai maksud dan tujuan yang sangat jelas,
b. Antara langkah yang satu dengan yang lainsaling berkesinambungan,
c. pengajar dapat dengan segera memperbaiki dan memperbaharui pembelajaran bila terjadi perubahan isi.

V. Penutup
Model Dick and Carrey merupakan salah satu model perencanaan pengajaran yang dipakai untuk penyusunan silabus yang sistematis demi tercapainya kegiatan belajar dan mengajar yang efektif. Model ini lebih memperhatikan karakteristik siswa, berorentasi pada hasil pembelajaran. Proses merupakan hal terpenting dalam model ini. Revisi dan uji coba yang dilakukan berulang kali akan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal.
Model Dick and Carrey terdiri atas sepuluh langkah dimana setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya, sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model Dick and Carrey menunjukkan hubungan yang sangat jelas dan saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.
.

Aplikasi Model Dick and Carrey
I. Menentukan TIU
Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ semester : X/ 1
Standar Kompetensi :
Mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman melalui pantun dan dongeng.
Kompetensi Dasar :
Menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun.
II. Melakukan Analisis Pembelajaran.
III. Mengidentifikasi tingkah laku, masukan, dan karakteristik siswa.
Aplikasi ini cocok digunakan untuk siswa kelas X semester 1
IV. TIK
Indikator Pembelajaran : Siswa mampu menjelaskan pengertian pantun
Siswa mampu menyebutkan macam-macam pantun
V. Mengembangkan Butir-Butir Tes Acuan Patokan.
1. Pretest : Tanya jawab mengenai pantun.
2. Behavior : Siswa membacakan pantun di depan kelas.
3. Tes sisipan: Siswa dapat menyebutkan pengertian pantun berdasarkan materi yang diberikan dan siswa dapat myebutkan macam-macam pantun.
4. Postes: Menyebutkan pengertian dan macam-macam pantun beserta contohnya.

VI. Strategi Pembelajaran
1. Metode Integratif
2. Metode kooperatif
3. Metode komunikatif
KBM
1. Kegiatan Pendahuluan
2. Kegiatan Inti
3. Kegiatan Penutup
VII. Pengembangan Materi Pembelajaran
1. Materi pembelajaran:
Menjelasakan pengertian pantun dan macam-macam pantun (diuraikan)
VIII. Mendesain dan Melaksanakan Uji Formatif
1. Fase perorangan atau fase klinis : menulis pantun
2. Fase kelompok kecil : menganalisa pantun yang dibuat oleh siswa lain
3. Uji lapangan : membacakan karya tulisnya (pantun) di depan kelas
IX. Merevisi Bahan Pembelajaran
Melakukan revisi sistem pembelajaran yang telah dilakukan.
X. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif
1. Siswa menganalisis pantun yang diberikan oleh guru sesuai dengan materi yang dipelajari.
2. Siswa membuat pantun.

Daftar Pustaka

Soekamto, Toeti. 1993. Perencangan dan Pengembangan Sistem Intruksional. Jakarta: Intermedia.
Uno, Hamzah. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Angkasa.

Model Perencanaan

Oktober 31, 2008

PERENCANAAN PENGAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
MODEL BANATHY

A. Pendahuluan
Pengembangan sistem instruksional adalah suatu proses menentukan dan menciptakan situasi dan kondisi tertentu yang menyebabkan siswa dapat berinteraksi sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan di dalam tingkah lakunya. (Carey, 1977: 6). Istilah pengembangan sistem instruksional dan desain instruksional sering dianggap sama.
B. Pembahasan
Model Banathy dikembangkan pada tahun 1968 oleh Bela H. Banahty. Model yang dikembangkannya ini berorientasi pada hasil pembelajaran, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sistem. Menurut Harjanto (2006:94) pendekatan sistem didasarkan pada kenyataan bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan suatu hal yang sangat kompleks, terdiri atas banyak komponen yang satu sama lain harus bekerja sama secara baik untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
Menurut Banathy (1972), pengembangan instruksional meliputi enam tahap, yaitu:

· TAHAP I : Merumuskan Tujuan Pembelajaran ( Formulate objectives )
Guru merumuskan kemampuan ynag harus dikuasai siswa atau yang diharapkan guru kepada siswa untuk dikerjakan, diketahui, dan dirasakan dari hasil pengalaman belajar.
a. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Menurut Gronlund, TIU adalah hasil belajar yang diharapkan, yang dinyatakan secara umum dan berpedoman pada perubahan tingkah laku dalam kelas. Kegunaan TIU dalam proses belajar mengajar:
• memberikan kriteria yang pasti untuk mengukur kemajuan belajar peserta didik
• memberikan kepastian mengenai kemampuan yang diharapkan dari peserta didik
• memberikan dasar untuk mengembangkan alat evaluasi untuk mengukur efektivitas pengajaran
• memberikan petunjuk dalam menentukan materi dan strategi instruksional
• petunjuk bagi peserta didik tentang apa yang akan dipelajari dan apa yang akan dinilai
• peserta didik akan mengorganisasikan usaha dan kegiatannya untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan
Menurut Gronlund, dalam perumusan TIU hal-hal yang harus diperhatikan adalah:
• Tujuan yang diharapkan secara umum
• Tidak terlepas dari konteks tujuan kurikuler maupun tujuan yang di atasnya
• Selaras dengan prinsip-prinsip belajar
• Sesuai dengan kemampuan peserta didik, waktu yang tersedia, dan fasilitas
• Mempunyai indikasi yang kuat bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku peserta didik

b. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
TIK adalah hasil belajar yang diharapkan yang dinyatakan dalam istilah perubahan tingkah khusus. Menurut Gronlund (1975: 30), tingkah laku khusus adalah kata kerja yang dapat diamati atau diukur. Menurut Mager, dalam merumuskan TIK yang lengkap hendaknya mencakup unsur-unsur:
• Performance
• Conditions
• Criterion
TIK yang sempurna hendaknya mampunyai 5 unsur, yaitu:
• Audience
• Behaviour
• Conditions
• Kriteria/degree
• Single performance

· TAHAP II : Mengembangakan Tes ( Develop test )
Guru mengembangkan tes yang didasarkan pada tujuan yang akan dicapai untuk mengetahui kemampuan yang telah dicapai.
· TAHAP III : Menganalisis Kegiatan Belajar ( Analyze learning task )
Merumuskan apa yang harus dipelajari ( kegiatan belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka mencapai tujuan belajar ). Kemampuan awal siswa harus dianalaisis atau dinilai agar mereka tidak perlu mempelajari apa yang telah mereka kuasai. Ada 3 tahap Analisis :
1. Analisis dan penentuan tugas –tugas apa yang perlu dilakukan dalam proses belajar
2. Penilaian dan pengujian kompetensi awal
3. Identifikasi serta penentuan tugas yang sesungguhnya
· TAHAP IV : Mendesain Sistem Instruksional ( Desingn system )
Mempertimbangkan alternative dan identifikasi apa yang harus dikerjakan. Dalam langkah ini ditetapkan jadwal dan tempat pelaksanaan dari masing-masing komponen instruksional. Ada 4 tahap dari perancangan Pembelajaran
1. Analisis Kegiatan ( Fuction analysis )
2. Analisis Komponen ( Component analysis )
3. Pembagian fungsi pada tiap komponen
4. Penjadwalan

· TAHAP V : Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil ( Implement and test output )
Desain yang telah dibuat diujicobakan ( dilaksanakan ). Selain itu dalam tahap ini perlu diadakan penilaian atas apa yang dilakaukan siswa agar dapat diketahui seberapa jauh siswa mampu mencapai hasil belajar
· TAHAP VI : Mengadakan Perbaiakan ( Change to improve )
Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik ( feed back ) untuk mengadakan perubahan-perubahan ( perbaikan ).

PENGEMBANGAN INSTRUKSIONAL MODEL BANATHY

Formulasi model belajar
Merancang
Sistem
Anaslisis Tugas
I III IV
Formulasi Analisis Tugas Merancang
model belajar Sistem

Implementasi dan Pengujian Hasil
Pengembangan Tes
II V
Pengembangan V
Tes Implementasi dan
Pengujian hasil

Perubahan Untuk memperbaiki Sistem
VI
Perubahan untuk memperbaiki sistem

KEKURANGAN DAN KELEBIHAN MODEL PERENCANAAN BANATHY
Menurut Rishe (handout), kekurangan dan kelebihan model perencanaan Banathy adalah:
o KELEBIHAN
– Berorientasi pada kemampuan siswa
– Pembelajaran berdasarkan pada analisis tugas
– Revisi didasarkan pada identifikasi kelebihan dan kekuatan implementasi
– Ada tiga aspek kompetensi ( kognitif, afektif, dan psikomotorik )
– Ada pengujian dan revisi system
o KEKURANGAN
– Tidak memberikan perhatian khusus pada proses pengembangan tes
– Tidak ada spesifikasi yang jelas tentang cara perancangan sistem

CONTOH PERENCANAAN PEMBELAJARAN MODEL BANATHY
Topik :Unsur-Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Puisi
Kompetensi Dasar : Siswa mampu mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu cerpen yang disampaikan secara langsung maupun melalui rekaman
Indikator Pembelajaran :
1. siswa mampu menjelaskan unsur-unsur cerpen, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsik
2. siswa mampu membuat cerpen
3. siswa mampu menganalisis cerpen, baik dari segi unsur maupun penggunaan bahasa
4. siswa mampu memberikan masukan mengenai cerpen yang dibuat teman
Alat evaluasi :
1. bentuk tes esai disampaikan secara lisan dan tulisan
2. soal
a. Jelaskan unsur-unsur puisi, baik unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik!
b. Buatlah sebuah cerpen!
c. Analisislah unsur-umsur dan penggunaan bahasa dan pembacaan!
d. Berikanlah masukan dan tanggapan terhadap cerpen teman!
Kegiatan dan pengalaman belajar
1. Pembelajaran dilakuakan di kelas atau di lab
2. Kegiatan: tugas, latuhan, diskusi, informatif.
3. Rincian pengalaman belajar:
a. siswa menonton dan mendengarkan pembacaan cerpen
b. siswa menentukan dan mendiskkusikan unsur-unsur cerpen
c. siswa melakukan latihan membuat cerpen
d. siswa saling bertukar puisi dan menanggapinya
e. penjelasan akhir dari guru
Materi pembelajaran :
Unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen

Sarana dan media :
TV, VCD player “ pembacaan cerpen”, buku teks pelajaran.
Melaksanakan pembelajaran
Revisi sesuai tahapannya

DAFTAR PUSTAKA

Harjanto. 2006. Perencanaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Dewi, L. Rishe Purnama . Handout Perencanaan Pembelajaran.

Evaluasi Pembelajaran bahasa Indonesia

Oktober 24, 2008

EVALUASI PEMBELAJARAN

Pengantar
Proses pembelajaran merupakan suatu bentuk komunikasi, yaitu komunikasi antara subjek didik dengan pendidik (guru). Selama kegiatan pembelajaran, siswa mempelajari suatu materi, dan diharapkan ia dapat menguasainya. Untuk mengetahui kemampuan siswa, maka guru harus membuat evaluasi agar dari hasil evaluasi itu diketahui kekurangan dan kelebihan sebuah pembelajaran sejak awal hingga akhir pembelajaran tersebut. Makalah ini akan membahas enam hal, yaitu (1) pengertian evaluasi, (2) tujuan evaluasi, (3) karakteristik evaluasi, (4) teknik-teknik evaluasi, (5) strategi kontrol pengajaran, dan (6) macam-macam alat evaluasi.

I. Pengertian Evaluasi
Menurut Oemar Hamalik (2008:210), evaluasi merupakan suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai keputusan-keputusan yang dibuat dalam rancang suatu sistem pengajaran. Rumusan ini memiliki tiga implikasi: pertama, evaluasi ialah suatu proses yang terus-menerus, bukan hanya pada akhir pengajaran tetapi dimulai sebelum dilaksanakannya pengajaran sampai dengan berakhirnya pengajaran. Kedua, proses evaluasi senantiasa diarahkan ke tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan jawaban tentang bagaimana memperbaiki pengajaran. Ketiga, evaluasi menuntut penggunaan alat-alat ukur yang akurat dan bermakna untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan guna membuat keputusan. Evaluasi juga merupakan kegiatan mengukur dan menilai (Arikunto, 1993). Mengukur ialah kegiatan membandingkan sesuatu dengan satu ukuran, sedangkan menilai ialah mengambil sebuah keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik/buruk.

II. Tujuan Evaluasi
Evaluasi sangat penting dilakukan dalam proses pembelajaran. Tujuan diadakannya evaluasi adalah sebagai berikut:
1. mengetahui sejauh mana anak didik menguasai materi yang diberikan,
2. mengetahuai sampai sejauh mana kemampuan, keuletan, kemampuan anak didik terhadap materi pembelajaran,
3. mengetahui apakah tindakan kemajuan anak didik sesuai dengan tingkat kemajuan menurut program kerja, dan
4. mengetahui derajat efisiensi dan keefektivitasan strategi pembelajaran yang telah digunakan baik yang mencakup metode maupun teknik belajar-mengajar.

III. Karakteristik Evaluasi
Evaluasi yang baik adalah evaluasi yang dapat membantu anak mencapai tujuan proses belajarnya. Oleh karena itu, evaluasi yang baik harus memperahatikan hal-hal ini, yaitu:
1. validitas: alat evaluasi harus sahih yaitu mengukur apa yang hendak diukur dengan tepat,
2. reliabilitas: alat evaluasi harus andal yaitu alat evaluasi harus menghasilkan hasil ukur yang sama jika dipakai kapanpun dan dimanapun,
3. deskriminatif: alat evaluasi harus dapat menunjukkan hasil yang berbeda pada setioap siswa, dan
4. praktis: alat evaluasi harus praktis yaitu mudah digunakan.

IV. Teknik Evaluasi
a. Teknik-Teknik untuk Menilai Pengetahuan
Evaluasi akhir pengajaran terhadap ketercapaian tujuan-tujuan aspek pengetahuan (knowledge) perlu dilakukan secara terpisah. Untuk menguji pengetahuan dapat digunakan pengujian sebagai berikut.
1) Teknik penilaian aspek pengenalan (recognition)
Caranya, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan bentuk pilihan berganda, yang menuntut siswa agar dapat melakukan identifikasi tentang fakta, defenisi, dan contoh-contoh yang betul (correct)
2) Teknik penilaian aspek mengingat kembali (recall)
Caranya, dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka-tertutup langsung untuk mengungkapkan jawaban-jawaban yang unik.
3) Teknik penilaian aspek pemahaman (comprehension)
Caranya, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut identifikasi terhadap pernyataan-pernyataan yang betul dan yang keliru, konklusi, atau klasifikasi, dengan daftar pertanyaan matcing (menjodohkan) yang berkenaan dengan konsep, contoh, aturan, penerapan, langkah-langkah dan urutan dengan pertanyaan bentuk essay (open ended) yang menghendaki uraian, perumusan kemnbali dengan kata-kata sendiri dan contoh-contoh.
b. Teknik Evaluasi Akhir Pengajaran
Teknik-teknik evaluasi dilaksanakan pada akhir pengajaran yang mencakup evaluasi terhadap perilaku keterampilan (skilled performance) dan evaluasi terhadap aspek pengetahuan (knowledge). Perilaku keterampilan meliputi keterampilan kognitif, afektif, psikomotorik, reaktif, serta interaktif. Pengetahuan meliputi aspek-aspek pengenalan (recognition), ingatan (recall), dan pemahaman (comprehension).

V. Strategi Kontrol Pengajaran
Ada 3 pertanyaan yang perlu dijawab sebagai dasar pertimbangan dalam mendesain strategi control dalam kerangka system pengajaran, yaitu :
a) Bagaimana kita menentukan hasil-hasil pengajaran yang telah kita laksanakan? Pertanyaan ini berkenaan dengan masalah pengukuran hasil (output measures).
b) Faktor-faktor apa yang harus dikontrol jika pengajaran harus dihentikan? Pertanyaan itu berkenaan dengan control hasil pengajaran (output control).
c) Siapa yang membuat keputusan dan dasarnya apa, bahwa pengajaran hrus dimulai, diselenggarakan, dan dihentikan?
a. Pengukuran Hasil Belajar
Ada 2 pendekatan yang dapat digunakan dalam pengukuran hasil belajar siswa, yaitu :
a) Pendekatan acuan norma (norm referenced approach ) yaitu pendekatan yang bertitik tolakdari hasil-hasil belajar yang diharapkan secara normal, yang berdasarkan pada asumsi bahwa kurva distribusi normal yang menyajikan banyak karakteristik manusia juga banyak diterapkan dalam distribusi belajar suatu system instruksional.
b) Pendekatan acuan kriteria ( criterion referenced approach )yaitu pendekatan yang berdasarkan kriteria yang diinginkan agar dicapai oleh siswa dalam proses belajar. Ukuran-ukuran itu bukan berdasarkan pada ukuran kelompok, melainkan berdasarkan pada apa yang dicapai oleh siswa itu sendiri.
b. Pengontrolan hasil pengajaran
Control hasil adalah faktor-faktor yang mengontrol kapan dan bagaimana siswa dapat melaksanakan sistem. Faktor-faktor terdiri atas sebagai berikut :
a) Waktu dalam sistem : waktu turut menentukan hasil belajar siswa, halini sejalan dengan penggunaan pendekatan acuan norma. Jika penyediaan waktu lebih fleksibel maka hasilnya akan lebih merata dan memungkinkan siswa mendapat hasil belajar yang lebih baik.
b) Kebutuhan- kebutuhan individu siswa : kebutuhan individu siswa kadang- kadang digunakan sebagai kriteria untuk mengontrol hasil belajar. Itu berarti, jika hasil belajar menunjukkan kesesuaian dengan tujuan-tujuan yang berdeferensi tersebut, maka dapat ditafsirkan bahwa kebutuhan individu telah mendapat pertimbangan.
c) Penguasaan isi atau tujuan : penguasaan tujuan merupakan faktor logis dalam memilih kontrol hasil. Ketercapaian tujuan pengajaran merupakan kriteria dalam mengontrol produk belajar yang telah diperoleh.
c. Sistem kontrol
Ada 3 bentuk kontrol yang dapat dipadukan pelaksanaannya
1 ) Prescriptive control : control dilakukan terhadap semua option didalam rencana pengajaran secara keseluruhan, termasuk juga control terhadap langkah-langkah algoritmik dan kemungkinannya yang bakal terjadi dalam keseluruhan pengajaran.
2 ) Democratic control : bentuk ini berdasarkan pada konsep keikutsertaan pembuatan keputusan. Orang yang paling besar partisipasinya adalah siswa itu sendiri. Mereka membuat keputusan biasanya dipengaruhi oleh nasehat guru dan mungkin juga para pembimbing.
3 ) adaptive control : bentuk ini berdasarkan asumsi bahwa tidak semua hal direncanakan dan juga tidak semua hal dibebankan pada siswa. Keputusan dibuat secara sistematik, tetapi berpijak pada bagaimana performance siswa.

VI. Macam-Macam Alat Evaluasi
Secara umum alat evaluasi yang digunakan un tuk mengukur kemampuan siswa dibagi menjadi dua yaitu, tes dan non tes. Tes adalah alat atau teknik daloamj melakukan evaluasi yang berupa soal-soal yang dikerjakan peserta tes. Non tes adalah sebuah alat evaluasi yang berupa perintah dilakukan oleh peserta tes. Selanjutnya dijabartkan di bawah ini.

A. Tes
Secara umum, tes dibagi menjadi tiga :
1. Tes non verba
2. Tes lisan
3. Tes tertulis
Dilihat dari jumlah orang:
1. Perorangan
2. Tes kelompok
Dilihat dari segi pembuatannya:
1. Tes buatan : Tes yang dibuat oleh guru.
2. Tes standar : Tes yang telah distandarisasikan.
Dilihat dari bentuk :
1. Tes Uraian
Ada dua macam tes uraian:
1. Uraian terbatas: uraian yang menghendaki jawaban singkat.
Contoh: sebutkan unsure-unsur intrinsik novel
2. Uraian bebas: uraian yang menghendaki jawaban bebas.
Cntoh: menurut anda bagaimana perkembangan novel di Indonesia?
Kelebihan tes uraian.
1. Pembuatannya mudah
2. Dapat menilai kemampuan berpikir dan penyampaian gagasan siswa.
3. Kemungkinan menerka-nerka kecil
Kelemahan tes uraian:
1. Membutuhkan waktu lama untuk mengoreksinya.
2. Subyektifitasnya tinggi.
3. Pengoreksi hanya orang yang menguasai materi itu.
2. Tes obyektif
Tes onjektif mempunyai banyak macam yaitu:
1. B-S
Yaitu berupa pernyataan dan sisa di minta untuk memilih apakah pernyataan tersebut benar atau salah.
Contoh: Ronggeng Dukuh Paruk merupakan salah satu cerpen karya Ahmad Tohari.
Jawaban: S
2. Pilihan ganda
yaitu tes yang menghaduirkan beberapa pilihan dalam satu soal dan siswa diminta memilih satu jawaban yang paling benar. Tes ini mempunyai empat macam yaitu:
a. Distracturs, yaitu soal yang menghadirkan beberapa pilihan dan hanya ada satu jawaban benar, dan yang lain sebagai pengecoh.
Contoh:
Bunga dapat digolongkan sebagai kata….
a. sifat
b. benda
c. bilangan
d. kerja
Jawaban: B
b. Variasi negatif, yaitu soal yang mempunyai beberapa kemungkinan jawaban benar dan satu jawaban salah dan siswa diminta memilih jawaban yang salah tersebut.
Contoh:
Di bawah ini terdapat kalimat baku, kecuali….
a. aku sedang membeli obat di apotik
b. Dia tidak paham dengan apa yang aku katakan
c. Dokter Andi praktek di dekat rumahku
d. Nasehatku tidsak pernah dia dengar
Jawaban: A
c. Variasi berganda, yaitu soal yang semua jawabannya benar tetapi hanya satu yang sempurna.
Contoh:
Di bawah ini unsur intrinsik novel adalah….
a. alur, plot, latar
b. plot, perwatakan, alur
c. alur, latar, perwatakan
d. setting, latar, alur
Jawaban: C
d. Analisis hubungan antarhal, yaitu soal yang terdiri dari dua gagasan dalam satu pernyataan.
Contoh:
Pilihlah:
a, jika pernyataan benar, alasan benar, dan keduanya berhubungan
b, jika pernyataan benar, alasan salah, dan keduanya berhubungan
c, jika pernyataan benar, dan alasan salah
d, jika pernyataan salah dan alasan benar
e, jika pernyataan salah dan alasan salah
Soal: SIM disebut akronim karena merupakan singkatan yang berupa gabungan huruf, yang diperlakukan sebagai kata.
Jawaban: A
3. Isian singkat, yaitu soal yang berupa pernyataan yang tidak lengkap sehingga siswa harus melengkapinya.
Contoh:
Ide pokok yang terdapat pada akhir paragraph disebut paragraf….
Jawaban: induktif

4. Menjodohkan, yaitu soal yang berupa satu lajur soal dan satu lajur jawaban, dan siswa diminta untuk menjodohkan kedua lajur tersebut.
Contoh:
1. Pantun a. singkatan
2. ASI b. Unsur intrinsik
3. Skimming c. Puisi lama
4. –kah d. Karangan persuasi
5. Latar e. Partikel
6. Iklan f. Imbuhan
g. membaca sekilas
h. akronim
Jawaban:
1 – c
2 – h
3 – g
4 – e
5 – b
6 – d

5. Tes Rumpang
Yaitu tes yang berupa paragraf dan setiap kalimat terdapat kata yang dihilangkan, dan siswa diminta untuk mengisi kata-kata yang hilang tersebut.
Contoh:
Pertanian itu sangat penting dalam kehidupan. Kita dapat bertahan hidup (1) … petani yang menghasilkan (2)… makanan. Penelitian dalam bidang pertanian (3) … digalakkan. Namun, anehnya banyak orang (4) … meninggalkan bidang pertanian ini. Tenaga (5)… dalam bidang pertanian mulai (6)…. Oleh karena itu, bidang (7) … harus mendapatkan penanganan yang (8) ….
Jawaban:
1. berkat
2. bahan
3. juga
4. mulai
5. kerja
6. berkurang
7. pertanian
8. sungguh-sungguh.
Kelebihan tes objektif:
1. Mudah dalam pengoreksian
2. Pemberian skor mudah
3. Jawaban mutlak
4. Dapat dikoreksi oleh orang lain
5. Unsur subyektifitasnya kecil
Kelemahan tes objektif:
1. membuthkan waktu lama dalam pembuatannya
2. kemungkinan menerka-nerka sangat besar

B. Nontes
Dalam alat evaluasi nontes, juga terdapat beberapa macam kegiatan, misalnya:

1. Observasi: siswa diminta untuk melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap
suatu fakta yang diselidiki.
Observasi di bagi menjadi tiga:
a) langsung
b) tidak langfsung
c) partisipasi
2. Wawancara: siswa diminta untuk melakukan tanya jawab kepada narasumber yang mengetahui tentang gejala yang sedang diselidiki
3. Angket: siswa diminta untuk menuliskan tentang sikap dan pendapatnya berkaitan dengan pernyataan yang diajukan.
4. Skala sikap: digunakan untuk mengevaluasi sikap siswa.
5. Check list: yaitu dadftar yang berisi subyek dan aspek yang diamati. Jika aspek itu ada, beri tanda check (V)
6. Portofolio: memeriksa kumpulan hasil kerja siswa dalam suatu kurun waktu tertentu.

Penutup
Kegiatan evaluasi merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa, selain untuk mengadakan perbaikan. Oleh karena itu, kegiatan evaluasi hendaknya memperhatikan tujuan pembelajaran, karakteristik evaluasi, macam-macam alat evaluasi, teknik-teknik evaluasi, dan strategis kontrol pembelajaran.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsini. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta
Hamalik, Oemar. 2008. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Bumi
Aksara. Jakarta
Uno, Hamzah B. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Bumi Aksara. Jakarta