Ampun

MENEPIS KABUT HITAM
Yohana Sembiring, SCMM

“Tak ada Gading yang Tak Retak” demikian ungkapan sebuah peribahasa yang tidak asing di telinga kita. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa, tidak seorang pun manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan. Kesalahan yang mungkin secara sadar atau tidak sadar membuat luka di hati orang lain. Suatu ketika kita dapat terluka karena orang lain, atau sebaliknya. Haruskah rasa perasaan yang tidak mengenakkan tersebut dibiarkan bercokol dalam hati? Bukankah ini dapat menjadi duri dalam daging? Atau bahkan dapat menjadi semacam bisul yang bisa meletus kapan saja? Tidakkah lebih membebaskan apabila setiap hati menyadari bahwa suatu saat kita dapat terluka dan di lain waktu melukai?

Rasa sakit yang tersimpan dalam hati adalah “produk” dari konflik yang tidak diselesaikan. Sedemikian manusiawinya pengalaman ini bukan saja hanya dialami orang-orang yang hidup di tengah-tengah keluarga, kelompok-kelompok masyarakat, lingkungan kerja bahkan terjadi di dalam komunitas religius sekali pun.
Keanekaragaman karakter, menyangkut perbedaan usia, perbedaan prinsif, perbedaan nilai-nilai yang diperjuangkan sering diasumsikan sebagai pemicu konflik. Selain itu kesalahpahaman, ketidakterbukaan, iri hati, dengki, nafsu akan kuasa/ambisi, kesombongan, merupakan penyebab lainnya. Keadaan dapat menjadi lebih runyam apabila konflik tersebut dibiarkan berlarut-larut, tidak diselesaikan. Pengalaman dapat menjadi sangat kompleks, terlebih bila sampai melibatkan sentimen pribadi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada hal-hal tertentu dari sisi hidup orang lain yang sulit di terima. Ada orang yang gemar guyon, heboh, atraktif, lincah tetapi di lain pihak ada yang berwatak tenang, to the point dan pendiam. Keberbedaan ini seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang memperindah warna-warni nuansa hidup bersama. Tetapi nyatanya sering juga perbedaan tersebut dijadikan sebagai alasan ketidakharmonisan dalam hidup bersama. Keadaaan buruk seperti itu dapat berlanjut ke tahap yang lebih menegangkan lagi yakni bila sampai menyimpan luka di hati.
Sebagai orang-orang terpilih kita tentu tidak setuju apabila kondisi seperti itu menggerogoti hidup kita. Terlebih bila konflik berlanjut menjadi suatu rangkaian panjang stimulus- respons yang mematikan semangat cinta kasih. “Saya bersikap seperti itu karena dia yang memulainya, lalu saya tidak mau tingal diam, terus dia membalasnya lagi minggu yang lalu… demikianlah lingkaran setan itu bisa bergulir begitu saja apabila tidak ada penyelesaian dan keterbukaan satu sama lain.

BUDAYA PEMBEBASAN VS MEMATIKAN
Hidup dalam persaudaraan karena ikatan dalam Kristus sebagai mempelai dan pemersatu tidak lepas dari situasi di mana ada ketegangan antara idealisme dan realitas. Kesenjangan inilah yang setiap saat, hari demi hari kita perjuangkan hingga menuju pemenuhannya. Ketika Tarekat kita berapi-api mendengung-dengungkan semangat cinta kasih, persaudaraan sejati dan pengampunan, namun pada waktu yang bersamaan terdengar dan terasa berhembus hawa perselisihan, sakit hati, kemarahan, intrik-intrik ke sudut-sudut komunitas religius.
Di manakah roh yang membebaskan hati dari himpitan sakit hati dan luka dapat dihirup? Apakah pembebasan ini akan datang begitu saja ibarat hujan yang turun dari langit? Apakah siraman roh pengampunan bisa merembes ke dalam hati yang gersang bila hati dibiarkan tertutup? Tidak mungkin. Bias-bias sinar mentari pagi hanya bisa masuk ke sisi ruang batin apabila ada celah-celah yang dapat diterobos. Menutup pintu hati sama artinya hidup dalam amarah dendam kesumat, yang berakhir pada kematian roh.
KEKUATAN YANG MEMBEBASKAN
Mencintai orang yang mencintai kita adalah wajar dilakukan oleh seorang nonkristiani sekali pun. Yesus menunjukkan bagi kita betapa pentingnya semangat pengampunan. Kesaksian itu dilakukan Yesus dari atas salibNya di bukit Tengkorak, “Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lk.23:34). Puncak cinta kasih dan pengorbanan Yesus tercermin lewat pengorbanan Tubuh dan Darah-Nya yang setiap kali kita kenangkan dan terima lewat Ekaristi Kudus. Perayaan Ekaristi setiap kali disimpulkan dengan Doa Bapa Kami yang isinya memohon pengampunan dosa,… seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. (bdk. Mat.6:9-13).
Sebagai manusia biasa, memaafkan tidak selalu menjadi hal yang mudah untuk dilakukan. Tetapi ini adalah satu-satunya jalan yang membebaskan. Sikap memaafkan ini buka hanya berguna untuk memperbaiki kembali relasi dengan orang yang bersangkutan, tetapi sekaligus juga meringankan beban diri sendiri atas himpitan rasa sakit hati. Kecuali bila berniat untuk mengoleksi rasa sakit itu di dalam hati. Ini lain ceritanya. Ini menjadi sebuah pengingkaran terhadap konsekuensi pilihan hidup. Memutuskan untuk memaafkan adalah sebuah kesetiaan terhadap komitmen. Yesus menegaskan agar berdamai dulu dengan saudara sebelum menyampaikan persembahan ke mezbah (bdk Mat.5:24).
Mempertimbangkan sebegitu repotnya menyimpan luka hati mungkin lebih membebaskan apabila rasa sakit hati itu di terima saja, dimaklumi dan dipahami. Tak Ada Gading yang Tak Retak. Tidak seorang pun yang tidak pernah khilaf di dunia ini. Aku pun bukan seorang sempurna yang luput dari sikap menyakiti orang lain. Betapa lelahnya jiwa ini bila harus mengeluarkan energi ekstra untuk memikul sekian banyak beban luka hati. Beban psikologis berupa rasa sakit hati dan kejengkelan hadir dalam bentuk energi negatif yang siap mengisap seluruh energi hidup secara sia-sia.
Tuhan kami manusia biasa. Biarlah hati ini menjadi hati yang terbuka atas permintaan maaf. Atau menjadi hati yang mau mengerti bila inisiatif untuk berdamai berasal dari diri sendiri. Tuhan biarkanlan Roh-Mu Yang Kudus senantiasa berkarya di muka bumi, sehingga segala bentuk perpecahan, kebencian dan iri dengki terpupus dari tengah-tengah umat pilihan-Mu. Biarlah pupus segala luka dari hati kami. Andaikan mungkin biarlah kami menjadi kerlip lilin di malam kelam. Menjadi batu penjuru, bukan batu sandungan. Cahaya kebenaran, menyeruaklah ke kisi setiap hati untuk mengajar kami menghapus kabut-kabut hitam yang menghalangi bias terang-Mu. Biarlah bahagia dan harapan terbersit lewat sabdamu,” Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barang siapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. Percayalah pada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang.” (Yoh. 12:35-36).

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: