MODEL PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN

MODEL PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN
MODEL DICK & CARREY

I. Pendahuluan
Pengembangan perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan yang telah ada.
Sebagai seorang tenaga pengajar ( guru), aktivitas kegiatannya tidak dapat dilepaskan dengan proses pengajaran. Sementara proses pengajaran merupakan suatu proses yang sistematis, yang tiap komponennya sangat menentukan keberhasilan belajar anak didik.
Demikian pula hanya sitem mata pelajaran tertentu, tujuan sistem-sistem itu adalah untuk menimbulkan belajar (learning) yang komponen belajarnya meliputi, peserta didik atau siswa, instruktur, pendidik (guru), materi pelajaran, dan lingkungan pengajaran ( Uno, Hamzah, 2006:22 ).
Modal perencanaan pengajaran Dick & Carrey, berorientasi pada dua hal yaitu, pengetahuan dan hasil. Pengetahuan dipakai sebagai sumber informasi tentang konsep-konsep, prinsip-prinsip rancangan instruksional dan langkah-langkahnya, sedangkan untuk memperoleh hasil yang memuaskan perlu dilakukan evaluasai berulang kali.
Sama seperti model-model pengembangan lainnya, model Dick & Carrey juga menerapkan model pendekatan sistem untuk perancangan instruksionalnya. pendekatan ini merupakan cara untuk memandang sesuatu secara menyeluruh dan sistematik. dalam menentukan tujuan instruksionalnya, model Dick & Carrey menyebutkan ada empat sumber, yaitu kurikulum lembaga pendidikan yang bersangkutan, pendapat ahli bidang, hasil analisis tugas, dan hasil observasi (Soekamto, Toeti. 1993:45)

II. Langkah-Langkah Penerapan Pendekatan Sistem Untuk Perancangan Sistem Instruksional Model Dick & Carrey
Berbagai model dapat dikembangkan dalam mengorganisisr pengajaran. Satu diantara model itu adalah model Dick And Carrey (1985 via Uno, 2008:23).Model Dick And Carrey digolongkan sebagai model yang berorentasi pada dua hal, yaitu:
1. pengetahuan, model tersebut dipakai sebagai sumber informasi tentang konsep-konsep, prinsip-prinsip perangcangan intruksional dan langkah-langkahnya.
2. hasil, menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip perancangan yang menghasilkan suatu bahan intruksional yang dapat dipakai belajar secara mandiri tanpa bantuan guru. Disini pun evaluasi dilaksanakan berulang kali sampai dapat memperoleh hasil yang memuaskan
Dick And Carrey menerapkan pendekatan sistem untuk perancangan sistem intruksional dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi Tujuan Pembelajaran( Tujuan utama atau terminal)
Tujuan utama atau terminal menyatakan apa yang dapat dilakukan oleh siswa setelah mengikuti program-program intruksional tersebut. Sumber penentuan tujuan dapat bersumber dari penilaian kebutuhan, tujuan-tujuan yang ada, pengalaman praktis dengan siswa yang mengalami kesulitan belajar, analisis suatu tugas dan sebagainnya.Di sisni tujuan terminal perlu dinyatakan dalam bentuk yang dapat dilihat dan diukur seperti yang dinyatakan oleh Mager. Hal ini untuk mempermudah pengukuran keberhasilan siswa mencapai tujuan intruksional tersebut.
2. Melakukan Analisis Pembelajaran
Menentukan macam atau jenis belajar apa yang akan dipelajari siswa berdasarkan kalsifikasi Gagne ( lima macam belajar). Tujuan terminal di analisis dan dipecah-pecah menjadi kettrampilan-ketrampilan yang perlu dipelajari siswa dalam usaha mencapai tujuan akhir.
3. Mengidentifikasi kemampaun awal dan karakteristik Siswa (mengenali tingkah laku masukan dan ciri-ciri siswa)
Menentukan ketrampilan-ketrampilan apa yang harus sudah dilakukan oleh siswa agar dapat mengikuti program intruksional dengan baik. Perlu diketahui adanya beberapa karakterristik siswa yang dapat mempengaruhi keberhasilannya misal, tingkat pendidikan, motivasi, tingkat intelektual status sosial ekonomi, dan sebagainnya.

4. Merumuskan Tujuan Intruksional Khusus (TIK) atau merumuskan tujuan performansi
Atas dasar analisis pembelajaran dan keterangan tentang tingkah laku masukan, selanjutnya menyusun pernyataan spesifik tentang apa yang akan mampu dilakukan siswa ketika menyelesaikan pembelajaran. Pernyataan yang dijabarkan dari keterampilan-keterampilan yang dikenali dengan jalan melakukan analisis pembelajaran ini perlu menyebutkan keterampilan-keterampilan yang harus dipelajari (dikuasai) siswa, kondisi perbuatan yang menunjukan keterampilan itu, dan kreteria bagi unjuk perbuatan (performansi) yang berhasil.
Menurut Dick and Carrey ( 1985 dalam Uno, Hamzah, 2007: 27) menyatakan bahwa tujuan performansi terdiri dari:
a. Tujuan harus menguraikan apa yang akan dikerjakan, atau diperbuat oleh anak didik.
b. Menyebutkan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat, yang hadir pada waktu anak didik berbuat.
c. Menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang dimaksudkan pada tujuan.
Menurut Gagne, Briggs, dan Mager menjelaskan bahwa fungsi performansi objektif adalah:
a. menyediakan suatu sarana dalam kaitannya dengan pembelajaran untuk mencapai tujuan;
b. menyediakan suatu sarana berdasarkan suatu kondisi belajar yang sesuai;
c. memberikan arah dalam mengembangakan dalam pengukuran atau penilaian;
d. membantu anak didik dalam usaha belajarnya.
5. Pengembangan Butir-Butir tes Berdasarkan Acuan Patokan.
Pengembangan butir-butir tes berdasarkan acuan patokan yang digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa telah mencapai tujuan instruksional. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membandingkan penampilan siswa dalam pengujian dengan patokan yang telah ditentukan sebelumnya. Tes acuan patokan disebut juga tes acuan tujuan.
Bagi seorang perancang pembelajaran harus mengembangkan butir tes acuan patokan, karena hasil tes pengukuran tersebut berguna untuk:
(a). mendiagnosis dan menempatkan dalam kurikulum;
(b). menceking hasil belajar dan kesalahan pengertian sehingga dapat diberikan pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutkan;
(c). menjadi dokumen kemajuan belajar.
Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan Dick and Carrey ( 1985) merekomendasikan empat macam tes acuan patokan, yaitu:
(1). test antry behaviors atau tes untuk mengukur kemampuan awal, yang merupakan prasyarat bagi program instruksional tersebut. Kadang-kadang tes ini tidak perlu, khususnya bila diyakini bahwa prograrn tersebut merupakan sesuatu yang baru bagi siswa yang akan mengikuti. Atau apabila program tersebut memeng tidak memerlukan suatu prasyarat tertentu.
(2). pretest atau tes awal merupakan tes acuan patokan yang berguna untuk mengukur sejauh mana siswa telah menguasai materi yang akan diajarkan. Bila program tersebut merupakan sesuatu yang baru, maka tes inipun dapat ditiadakan. Maksud dari pretes ini bukanlah untuk menentukan nilai akhir tetapi lebih mengenal profil anak didik berkenaan analisis pembelajaran.
(3). tes selama siswa sedang dalam proses belajar (Uno, 2007: 28, tes tersebut tes sisipan). tes ini berfungsi untuk melihat apakah siswa memang telah dapat menangkap apa yang sedang dibicarakan. Tes ini diadakan setelah materi selesai diberikan.
(4). Tes akhir atau pasca tes. Merupakan tes acuan patokan yang mencakup pengukuran semua tujuan intruksional khusus yang ada terutama tujuan intruksional yang bersifat terminal. Dengan tes ini dapat diketahui bagian-bagian mana diantara pembelajaran yang belum dicapai.
6. Pengembangan Srategi Intruksional ( siasat pembelajaran).
Dalam strategi pembelajaran, menjelaskan komponen umum suatu perangkat meterial suatu pembelajaran dan mengembangkan materi secara prosedural haruslah berdasarkan karakteristik siswa, karena material pembelajaran yang dikembangkan, pada akhirnya dimaksudkan untuk membantu siswa untuk memperoleh kemudahan dalam belajar. Dick and Carrey (1985) dalam (Uno, 2007: 29), mengemukakan bahwa dalam merencanakan satu unit pembelajaran ada tiga tahap, yaitu:
(a). mengurutkan dan merumpunkan tujuan ke dalam pembelajaran,
(b). merencanakan pembelajaran, pengetesan dan kegiatan tindak lanjut,
(c). menyusun alokasi waktu berdasarkan strategi pembelajaran.
Dengan mengurutkan tujuan kedalam pembelajaran dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakana bagi si pembelajar. Ada lima komponen strategi pembelajaran, yaitu:
(1). kegiatan pra pembelajaran.
Kegiatan ini dianggap penting karena dapat memotifasi anak didik. Pemberitahuan tentang tujuan intruksional apa yang harus dicapai siswa setelah mengikuti program tersebut juga tentang keterampilan atau kemampuan yang merupakan prasyarat untuk mempelajari program.
(2). penyajian informasi.
Dengan penyajian informasi, anak didik menjadi tahu sejauh mana materi pembelajaran yang harus mereka pelajari, disajikan sesuai urutannya, keterlibatan mereka dalam setiap kegiatan pembelajaran.
(3). Partisipasi atau peran serta siswa.
Dalam hal ini anak didik harus diberi kesempatan berlatih atau terlibat dalam setiap langkah pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran. Semakin banyak keterlibatan anak didik dalam pembelajaran maka akan semakin baik perolehan belajar anak didik tersebut.

(4). Pengetesan.
Pengetesan dilakukan untuk memberikan umpan balik kepada pengajar untuk memperbaiki, merevisi baik materi pembelajaran, strategi, maupun strategi pengetesan.
(5). Kegiatan tindak lanjut.
Aktivitas ini menyangkut pertanyaan-pertanyaan apakah perlu ada bahan remidial? Strategi apakah yang diperlukan? Apakah perlu bahan pengayaan? Aktvitas ini dirancang setelah diperoleh umpan balik dari hasil uji coba di lapangan.
7. Perancangan Intrusional ( Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran).
Dick and Carrey menyarankan ada tiga pola yang dapat digunakan pengajar untuk merancang atau menyampaikan pembelajaran, yaitu:
(a). pengajar merancang bahan pebelajaran individual, semua tahap pembelajaran dimasukkan, kecuali pretes dan postes.
(b). pengajar memilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai dengan strategi pembelajaran.
(c). pengajar tidak memakai bahan, tetapi menyampaikan semua pembelajaran menurut stategi pembelajaran yang telah disusunnya.
Kebaikan stategi ini adalah pengajar dapat dengan segera memperbaiki dan memperbaharui pembelajaran bila terjadi perubahan isi adapun kelemahannya adalah sebagaian waktu tersita untuk menyampaikan informasi, sehingga sedikit sekali waktu membantu anak didik.
8. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Formatif
Hal ini dilakukan karena evalasi ini merupakan salah satu langkah dalam mengembangkan desain pembelajaran yang bertugas untuk mengumpulkan data dan untuk perbaikan pembelajaran. Ada tiga fase penilaian formatif, yaitu:
a. Fase perorangan atau fase klinis. Pada fase ini perancang bekerja dengan siswa secara perseorangan untuk memperoleh data guna menyempurnakan bahan pembelajaran.
b. Fase kelompok kecil, terdiri atas delapan sampai sepuluh orang yang merupakan wakil cerminan populasi sasaran mempelajari bahan secara mandiri, dan kemudian diuji untuk memperoleh data yang diperlukan.
c. Fase uji lapangan.
9. Merevisi Bahan Pembelajaran
Hal ini dilakukan untuk menyempurnakan bahan pembelajaran sehingga lebih menarik, efektif bila digunakan dalam keperluan pembelajaran, sehingga memudahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dick and Carrey (1985) mengemukan ada dua revisi yang perlu dipertimbangkan yaitu:
a. Revisi terhadap isi atau subtansi bahan pembelajaran agar lebih cermat sebagai alat belajar.
b. Revisi terhadap cara-cara yang dipakai dalam menggunakan bahan pembelajaran.
Untuk keperluan bahan pembelajaran ada empat macam keterangan pokok yang menjadi sumber dalam melakukan revisi, yaitu:
a) Ciri anak didik dan tingkah laku masukan
b) Tanggapan langsung terhadap pembelajaran termasuk tes sisipan.
c) Hasil pembelajaran paska tes.
d) Jawaban terhadap kuesioner.
10. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif
Melalui evaluasi sumatif dapat ditetapkan atau diberikan nilai, apakah suatu desain pembelajaran, dimana dasar keputusan penilaian didasarkan pada keafektifan dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, evaluasi sumatif diarahan pada keberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, yang diperlihatkan oleh unjuk kerja siswa (Uno, Hamzah. 2007:32-33).

III. Perbedaan Model Dick and Carrey dengan Model Kemp, dan PPSI.

Perbedaan
No Dick and Carrey PPSI Kemp
1 Berorentasi pada tujuan dan hasil pembelajaran Berorentasi pada tujuan pembelajaran Berorentasi pada tujuan, evaluasai, dan sumber pembelajaran
2 Menuntut karakteristik siswa, bidang studi, dan kondisi lapangan Tidak menuntut adanya karakteristik siswa Menuntut adanya karakteristik siswa
3 Revisi berlaku untuk semua komponen kecuali evaluasi sumatif Revisi berlaku untuk keseluruhan komponen satuan pembelajaran Revisi hanya pada sebagian sistem (komponen tertentu)

IV. Kelebihan model Dick and Carrey
Model Dick and Carrey mempunyai beberapa kelebihan, yaitu;
a. Model ini cocok bagi pemula, karena setiap langkah mempunyai maksud dan tujuan yang sangat jelas,
b. Antara langkah yang satu dengan yang lainsaling berkesinambungan,
c. pengajar dapat dengan segera memperbaiki dan memperbaharui pembelajaran bila terjadi perubahan isi.

V. Penutup
Model Dick and Carrey merupakan salah satu model perencanaan pengajaran yang dipakai untuk penyusunan silabus yang sistematis demi tercapainya kegiatan belajar dan mengajar yang efektif. Model ini lebih memperhatikan karakteristik siswa, berorentasi pada hasil pembelajaran. Proses merupakan hal terpenting dalam model ini. Revisi dan uji coba yang dilakukan berulang kali akan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal.
Model Dick and Carrey terdiri atas sepuluh langkah dimana setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya, sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model Dick and Carrey menunjukkan hubungan yang sangat jelas dan saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.
.

Aplikasi Model Dick and Carrey
I. Menentukan TIU
Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ semester : X/ 1
Standar Kompetensi :
Mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman melalui pantun dan dongeng.
Kompetensi Dasar :
Menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun.
II. Melakukan Analisis Pembelajaran.
III. Mengidentifikasi tingkah laku, masukan, dan karakteristik siswa.
Aplikasi ini cocok digunakan untuk siswa kelas X semester 1
IV. TIK
Indikator Pembelajaran : Siswa mampu menjelaskan pengertian pantun
Siswa mampu menyebutkan macam-macam pantun
V. Mengembangkan Butir-Butir Tes Acuan Patokan.
1. Pretest : Tanya jawab mengenai pantun.
2. Behavior : Siswa membacakan pantun di depan kelas.
3. Tes sisipan: Siswa dapat menyebutkan pengertian pantun berdasarkan materi yang diberikan dan siswa dapat myebutkan macam-macam pantun.
4. Postes: Menyebutkan pengertian dan macam-macam pantun beserta contohnya.

VI. Strategi Pembelajaran
1. Metode Integratif
2. Metode kooperatif
3. Metode komunikatif
KBM
1. Kegiatan Pendahuluan
2. Kegiatan Inti
3. Kegiatan Penutup
VII. Pengembangan Materi Pembelajaran
1. Materi pembelajaran:
Menjelasakan pengertian pantun dan macam-macam pantun (diuraikan)
VIII. Mendesain dan Melaksanakan Uji Formatif
1. Fase perorangan atau fase klinis : menulis pantun
2. Fase kelompok kecil : menganalisa pantun yang dibuat oleh siswa lain
3. Uji lapangan : membacakan karya tulisnya (pantun) di depan kelas
IX. Merevisi Bahan Pembelajaran
Melakukan revisi sistem pembelajaran yang telah dilakukan.
X. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif
1. Siswa menganalisis pantun yang diberikan oleh guru sesuai dengan materi yang dipelajari.
2. Siswa membuat pantun.

Daftar Pustaka

Soekamto, Toeti. 1993. Perencangan dan Pengembangan Sistem Intruksional. Jakarta: Intermedia.
Uno, Hamzah. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Angkasa.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: