Archive for November, 2008

Ampun

November 8, 2008

MENEPIS KABUT HITAM
Yohana Sembiring, SCMM

“Tak ada Gading yang Tak Retak” demikian ungkapan sebuah peribahasa yang tidak asing di telinga kita. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa, tidak seorang pun manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan. Kesalahan yang mungkin secara sadar atau tidak sadar membuat luka di hati orang lain. Suatu ketika kita dapat terluka karena orang lain, atau sebaliknya. Haruskah rasa perasaan yang tidak mengenakkan tersebut dibiarkan bercokol dalam hati? Bukankah ini dapat menjadi duri dalam daging? Atau bahkan dapat menjadi semacam bisul yang bisa meletus kapan saja? Tidakkah lebih membebaskan apabila setiap hati menyadari bahwa suatu saat kita dapat terluka dan di lain waktu melukai?

Rasa sakit yang tersimpan dalam hati adalah “produk” dari konflik yang tidak diselesaikan. Sedemikian manusiawinya pengalaman ini bukan saja hanya dialami orang-orang yang hidup di tengah-tengah keluarga, kelompok-kelompok masyarakat, lingkungan kerja bahkan terjadi di dalam komunitas religius sekali pun.
Keanekaragaman karakter, menyangkut perbedaan usia, perbedaan prinsif, perbedaan nilai-nilai yang diperjuangkan sering diasumsikan sebagai pemicu konflik. Selain itu kesalahpahaman, ketidakterbukaan, iri hati, dengki, nafsu akan kuasa/ambisi, kesombongan, merupakan penyebab lainnya. Keadaan dapat menjadi lebih runyam apabila konflik tersebut dibiarkan berlarut-larut, tidak diselesaikan. Pengalaman dapat menjadi sangat kompleks, terlebih bila sampai melibatkan sentimen pribadi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada hal-hal tertentu dari sisi hidup orang lain yang sulit di terima. Ada orang yang gemar guyon, heboh, atraktif, lincah tetapi di lain pihak ada yang berwatak tenang, to the point dan pendiam. Keberbedaan ini seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang memperindah warna-warni nuansa hidup bersama. Tetapi nyatanya sering juga perbedaan tersebut dijadikan sebagai alasan ketidakharmonisan dalam hidup bersama. Keadaaan buruk seperti itu dapat berlanjut ke tahap yang lebih menegangkan lagi yakni bila sampai menyimpan luka di hati.
Sebagai orang-orang terpilih kita tentu tidak setuju apabila kondisi seperti itu menggerogoti hidup kita. Terlebih bila konflik berlanjut menjadi suatu rangkaian panjang stimulus- respons yang mematikan semangat cinta kasih. “Saya bersikap seperti itu karena dia yang memulainya, lalu saya tidak mau tingal diam, terus dia membalasnya lagi minggu yang lalu… demikianlah lingkaran setan itu bisa bergulir begitu saja apabila tidak ada penyelesaian dan keterbukaan satu sama lain.

BUDAYA PEMBEBASAN VS MEMATIKAN
Hidup dalam persaudaraan karena ikatan dalam Kristus sebagai mempelai dan pemersatu tidak lepas dari situasi di mana ada ketegangan antara idealisme dan realitas. Kesenjangan inilah yang setiap saat, hari demi hari kita perjuangkan hingga menuju pemenuhannya. Ketika Tarekat kita berapi-api mendengung-dengungkan semangat cinta kasih, persaudaraan sejati dan pengampunan, namun pada waktu yang bersamaan terdengar dan terasa berhembus hawa perselisihan, sakit hati, kemarahan, intrik-intrik ke sudut-sudut komunitas religius.
Di manakah roh yang membebaskan hati dari himpitan sakit hati dan luka dapat dihirup? Apakah pembebasan ini akan datang begitu saja ibarat hujan yang turun dari langit? Apakah siraman roh pengampunan bisa merembes ke dalam hati yang gersang bila hati dibiarkan tertutup? Tidak mungkin. Bias-bias sinar mentari pagi hanya bisa masuk ke sisi ruang batin apabila ada celah-celah yang dapat diterobos. Menutup pintu hati sama artinya hidup dalam amarah dendam kesumat, yang berakhir pada kematian roh.
KEKUATAN YANG MEMBEBASKAN
Mencintai orang yang mencintai kita adalah wajar dilakukan oleh seorang nonkristiani sekali pun. Yesus menunjukkan bagi kita betapa pentingnya semangat pengampunan. Kesaksian itu dilakukan Yesus dari atas salibNya di bukit Tengkorak, “Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lk.23:34). Puncak cinta kasih dan pengorbanan Yesus tercermin lewat pengorbanan Tubuh dan Darah-Nya yang setiap kali kita kenangkan dan terima lewat Ekaristi Kudus. Perayaan Ekaristi setiap kali disimpulkan dengan Doa Bapa Kami yang isinya memohon pengampunan dosa,… seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. (bdk. Mat.6:9-13).
Sebagai manusia biasa, memaafkan tidak selalu menjadi hal yang mudah untuk dilakukan. Tetapi ini adalah satu-satunya jalan yang membebaskan. Sikap memaafkan ini buka hanya berguna untuk memperbaiki kembali relasi dengan orang yang bersangkutan, tetapi sekaligus juga meringankan beban diri sendiri atas himpitan rasa sakit hati. Kecuali bila berniat untuk mengoleksi rasa sakit itu di dalam hati. Ini lain ceritanya. Ini menjadi sebuah pengingkaran terhadap konsekuensi pilihan hidup. Memutuskan untuk memaafkan adalah sebuah kesetiaan terhadap komitmen. Yesus menegaskan agar berdamai dulu dengan saudara sebelum menyampaikan persembahan ke mezbah (bdk Mat.5:24).
Mempertimbangkan sebegitu repotnya menyimpan luka hati mungkin lebih membebaskan apabila rasa sakit hati itu di terima saja, dimaklumi dan dipahami. Tak Ada Gading yang Tak Retak. Tidak seorang pun yang tidak pernah khilaf di dunia ini. Aku pun bukan seorang sempurna yang luput dari sikap menyakiti orang lain. Betapa lelahnya jiwa ini bila harus mengeluarkan energi ekstra untuk memikul sekian banyak beban luka hati. Beban psikologis berupa rasa sakit hati dan kejengkelan hadir dalam bentuk energi negatif yang siap mengisap seluruh energi hidup secara sia-sia.
Tuhan kami manusia biasa. Biarlah hati ini menjadi hati yang terbuka atas permintaan maaf. Atau menjadi hati yang mau mengerti bila inisiatif untuk berdamai berasal dari diri sendiri. Tuhan biarkanlan Roh-Mu Yang Kudus senantiasa berkarya di muka bumi, sehingga segala bentuk perpecahan, kebencian dan iri dengki terpupus dari tengah-tengah umat pilihan-Mu. Biarlah pupus segala luka dari hati kami. Andaikan mungkin biarlah kami menjadi kerlip lilin di malam kelam. Menjadi batu penjuru, bukan batu sandungan. Cahaya kebenaran, menyeruaklah ke kisi setiap hati untuk mengajar kami menghapus kabut-kabut hitam yang menghalangi bias terang-Mu. Biarlah bahagia dan harapan terbersit lewat sabdamu,” Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barang siapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. Percayalah pada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang.” (Yoh. 12:35-36).

Kritik Sastra “Biola Tak Berdawai”

November 8, 2008

MENGKRITISI SEBUAH KARYA SASTRA
MELALUI EMPAT PENDEKATAN UTAMA

Nama : Oratna Sembiring

Data Karya Sastra:
Novel Berjudul : “Biola Tak Berdawai”
Pengarang : Seno Gumira Ajidharma
(Adaptasi Film BiolaTak Berdawai)
Penulis Skenario Sekar Ayu Asmara
Tahun Terbit : 2004
Tebal buku : 198 halaman

PENGANTAR
Secara garis besar, berbagai macam pendekatan terhadap karya sastra yang berkembang dalam studi sastra, menurut Abram (Wiyatmi, 2006:78), terdiri dari empat pendekatan utama, yaitu pendekatan (1) mimetik, (2) ekspresif, (3) pragmatik, (4) objektif. Keempat pendekatan tersebut kemudian mengalami perkembangan hingga muncul berbagai pendekatan seperti pendekatan struktural, semiotik, sosiologi sastra, resepsi sastra, psikologi sastra, dan moral.
Lewat makalah ini penulis akan mendekati Novel “Biola Tak Berdawai” Karya Seno Gumira Ajidharma dengan keempat pendekatan utama tersebut. Pengkajian diawali dengan mengetengahkan sinopsis, teori tiap pendekatan dan kemudian “membedah” novel dengan pendekatan yang bersangkutan.
SINOPSIS
Renjani meninggalkan Jakarta, untuk mengubur masa lalunya dan keinginannya untuk menjadi penari balet. Ia pindah ke Yogya dan mengabdikan hidupnya dengan merawat anak-anak tuna daksa yang tidak dikehendaki orang tuanya. Ia dibantu oleh seorang dokter berumur 40 tahun. Mbak Wid. Dewa 8 tahun, menjadi anak kesayangan Renjani dan diperlakukan sebagai anak normal. Renjani terkejut melihat reaksi Dewa, ketika iseng-iseng menari balet.
Hal ini yang membuatnya membawa Dewa ke resital biola. Disitu ia berjumpa dengan Bhisma, mahasiswa musik, 23 tahun. Bhisma tertarik pasa penampilan Renjani dari situlah persahabatan terjalin.

1. PENDEKATAN MIMETIK
Karya sastra tidak lahir dari situasi kosong budaya (Teew, 1980:11). Novel ini didekati secara mimetik. Pendekatan mimetic memiliki pandangan bahwa karya sastra sebagai tiruan alam, kehidupan atau dunia ide. Bagian refleksi sosial budaya menjadi bahan kajian pendekatan ini. Berikut ini akan disajikan synopsis, analisis dan penilaian terhadap novel “Biola Tak Berdawai”. Sebuah novel yang ditulis oleh Seno Gumira Adjidharma yang sebelumnya berbentuk Film yang skenarionya ditulis oleh sekar Ayu Asmara. Berikut ini lewat pendekatan mimesis kita akan meninjau apakah ada kesesuaian antara dunia nyata dengan dunia ide atau apakah karya ini merupakan cerminan dunia nyata.
TANGGAPAN
Latar realitas bagi novel ini kondisi Yogyakarta, lebih luas lagi Indonesia tahun 2002. Sebuah peradaban yang diwarnai dengan penurunan nilai-nilai moral. Ketika dunia diterjang arus globalisasi sekaligus dengan dampak-dampak negatif yang ditimbulkannya. Berbagai bentuk pelanggaran menjadi menu harian berbagai media. Termasuk kasus-kasus pembuangan bayi menjadi liputan berita. Sering terjadi bayi-bayi tersebut sebagai hasil hubungan gelap. Ada juga bayi-bayi yang dibuang karena dianggap sebagai aib entah karena lahir cacat atau karena kelahirannya tidak diinginkan.
Tidak jarang juga terjadi pengguguran kandungan atau abortus. Secara etika moral dari saat pertama zigot sudah mempunyai identitas genetis. Semua yang dilakukan di dunia harus menyatakan bahwa dalam arti tertentu mereka beradaa pada saat pembuahan, walaupun embrio muda belum mempunyai identitas persona. (Bertens, 2003:114).
“Kamu buang anakmu?! Sinting kamu Renjani! Kamu gugurkan anakmu ya? Iya Renjani?! Iya?!” (hal 54).
Tokoh Renjani seorang sosok yang pernah menggugurkan kandungannya. Kendati bayi tak berdosa tersebut harus terbentuk akibat hasil perkosaan seharusnya sang bayi memiliki hak untuk hidup. Tetapi tidak terlalu mudah bagi Renjani menerima begitu saja bayi yang tidak diinginkannya itu berkembang dalam rahimnya. Demikianlah dalam kegalauan yang mendalam ia memilih mengakhiri kehidupan sang embrio dari rahimnya.
Moralitas menentang abortus demikian pendapat Soe Tjen marching dalam tulisannya yang bertajuk: “Aborsi, pro life atau pro choice” kompas, 7/7/2003 melibatkan diri dalam suatu diskusi aktual…Pembicaraan ini mengakibatkan pro dan kontra antara legalisir VS anti abortus. Masalahnya adalah apabila kehamilan tidak dikehendaki misalnya karena hasil perkosaan, si wanita tidak menginginkan kehamilannya, di sisi lain janin dalam kandungan juga mempunyai hak hidup. Maka timbullah polarisasi tajam antara pro-chice (pro pilihan) dan pro-life (pro kehidupan) (Bertens, 2004: 139).
Konflik ini diangkat oleh Sekar Ayu Asmara dalam Film Biola Tak Berdawai, yang akhirnya di Novelkan oleh Seno Gumirah Ajidharma.
Memang bayi Cempaka adalah bayi kesekian yang diletakkan di muka pintu pagar…tentu kita masih boleh terheran-heran, jika bayi-bayi tuna daksa dibuang karena keganjilan bentuk upanya, maka alasan membuang bayi yang bukan saja sehat, tetapi juga cantik, montok, dan membuat bahagia setiap orang yang memandangnya? Apakah pembuang bayi itu orang- orang miskin yang kurang pengetahuan? Sepanjang pengalaman pak Kliwon, hanya sekali terjadi da bayi diletakkan seorang pejalan kaki yang datang mengendap-endap di pagi buta. Selebihnya selalu diturunkan dari mobil, yang tidak jarang mewah, dan banyak juga yang nomornya dengan awalan B: mobil-mobil Jakarta. Bahkan Pak Kliwon merasa pernah mengenali wajah salah seorang dari mereka, sebagai wajah yang sering muncul di layer TV. (hal.25).
Fenomena lain diangkat dalam Biola Tak berdawai ini adalah maraknya pembuangan bayi-bayi tak berdosa. Ada yang dibuang di tempat sampah. Ada pula yang diletakkan di depan pintu panti asuhan. Fenomena memprihatinkan ini membawa sebuah kontras yang sangat jelas antara semangat cinta kasih dan ketidakpedulian dalam dalam setiap detil alur cerita novel ini.

Kesimpulan
Gambaran fenomena yang dimuat di dalam novel “Biola tak berdawai” tidak jauh dari realitas sosial yang terjadi saat ini. Hampir setiap hari media massa, baik berupa media cetak maupun televisi menayangkan kasus pembuangan bayi dan abortus. Pergaulan bebas dan ketidakpedulian terhadap nilai-nilai hidup menjadi salah satu penyebab terjadinya pelanggaran ini.
Di sisi lain diantara keprihatinan yang kian memuncak masihkah ada insan-insan yang menghargai kehidupan seperti sosok Renjani? Renjani yang dulu pernah jatuh dalam pelanggaran pemusnahan sebuah hidup. Pengguguran. Kendati janin itu merupakan hasil perkosaan. Ketidakberdayaannya menerima kehidupan yang lain itu hadir dalam rahimnya membawanya pada suatu bentuk kehidupan yang lain. Yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Meninggalkan gegap-gempitanya hidup sebagai penari balet dan mengasingkan diri merangkul jiwa-jiwa tak berdaya, mendekap biola-biola tak berdawai hingga samara-samar bunyinya terdengar kerelung-relung hati terdalam seorang manusia yang berhati. Kontas antara cinta dan ketidakpedulian terpampang jelas dalam novel ini.
Satu hal yang terlalu ideal dalam novel ini adalah: totalitas seorang Renjani yang sudah sangat langka ditemukan pada zaman ini. Kalau pun itu ada pengabdian yang setotal ini hanya ada satu pribadi dalam satu dekade, misalnya: pengabdian penuh cinta Beata Theresia dari Calcutta yang berjuang untuk orang orang miskn dan penderita kusta di India. Totalitas seorang Renjani menjadi semacam bius penghilang rasa sakit atau peri penolong dari negeri dongeng pengantar tidur di saat dunia zaman ini semakin terkoyak oleh kaburnya penghayatan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai warisan leluhur kita.

2. PENDEKATAN EKSPRESIF
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang dalam memandang dan mengkaji karya sastra memfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku pencipta karya sastra. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai ekspresi sastrawan, sebagai curahan perasaan dan luapan perasaan atau luapan perasaan dan pikiran sastrawan, atau sebagai produk imaginasi sastrawan yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya. (Wiyatmi, 2006:82).
TANGGAPAN
Pendekatan ekspresif mengkaji sastra bertitik-tolak dari kehidupan pengarangnya. Ini berkaitan dengan latar belakang kehidupan, daerah kelahiran, latar belakang sosialnya, pendidikan, dan pengalaman yang pernah dilewatkannya. Dalam hal ini karya sastra dianggap sebagai pancaran kepribadian pengarang, gerak jiwa, pengembangan imajinasi, fantasi pengarang yang tertuang dalam karyanya.
Novel Biola Tak Berdawai tidak dapat dipisahkan dari dua pengaruh kehidupan dua orang besar Seno Gumira Adjidharma dan Sekar Ayu Asmara. Seno Gumira lahir di Boston, 19 Juni 1958. Adjidharma adalah seorang wartawan dan penulis serba bisa dari generasi baru dalam sastra Indonesia. Tak kurang dari 25 judul buku yang ditulis Seno, terdiri dari esai, cerpen, roma dan juga scenario drama dan film. Buku-buku karya Seno beberapa di antaranya yakni: Atas Nama Malam, Wisanggeni, Sang Buronan, Sepotong Senja Untuk Pacarku, Biola tak berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja. Seno dikenal sebagai seorang penulis situasi di Timor Timor tempo dulu. Tulisannya tentang Timor-Timur dituangkannya dalam Trilogi buku Saksi Mata (Kumpulan Cerpen), Jazz, dan insiden (Roman) dan ketika Jurnalisme dibungkam, sastra Harus Bicara (kumpulan Esai). Seno juga dianugerahi sejumlah penghargaan, diantaranya South East Asia Write Award.
Sekar Ayu Asmara, adalah sosok kreatif yang enerjik. Lahir di Jakarta, dan pernah bermukim di Afganistan, Turki serta Belanda. Enerji kreatifnya telah muncul selama beberapa dasawarsa dalam bentuk dan dimensi yang berbeda-beda. Sekar pernah berkarir dalam dunia iklan, serta pernah menjadi komposer dan juga penulis lirik lagu untuk artis-artis papan atas. Ia juga tercatat sebagai pelukis yang telah berpameran tunggal. Di dunia penerbitan, buku untuk anak-anak berjudul Ondel-ondel dan Misteri Es Krim yang Hilang merupakan kaarya tulis pertamanya. Karir dalam dunia film, dimulai dengan menjadi produser dan sutradara sejumlah video klip dan program televisi. Tahun 2001, sekar terjun kedunia film menjadi menjadi produser dan produser musik untuk film cerita Ca-bau-kan. Tahun 2003, Sekar memulai debutnya sebagai penulis, produser dan sutraara untuk film karya fenomenal Biola tak Berdawai.
Novel Biola Tak Berdawai lahir dari curahan inspirasi dua tokoh besar yang aktif dalam kehidupan humanistik. Kedua tokoh ini memiliki pengalaman yang holistik dan menyeluruh. Mereka pernah hidup di beberapa benua. Dunia timur dan barat. Pengalaman intelek mereka juga luas. Tidak mengherankan bila karya yang mereka lahir ini sarat dengan muatan pendidikan.

3. PENDEKATAN PRAGMATIK
Pendekatan pragmatik mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyak nilai pendidikan moral atau agama yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, semakin tinggi nilai karya sastra tersebut (Wiyatmi, 2006:86).
TANGGAPAN
Saat kutelan makanan yang disuapkan ibuku.” Anak pintar, dan hanya anak-anak pintar seperti kamu yang boleh tinggal di sini.”Tapi mbak Wid, entah kenapa tersinggung dengan perhatian ibuku yang dianggapnya berlebihan. Nada suaranya tiba-tiba meninggi. “Anak-anak yang dibuang orang tuanya.Anak-anak yang bikin malu keluarga. Anak-anak yang cacatnya dobel-dobel. Anak-anak yang umurnya tidak lama!” ibuku mengimbangi dengan perlahan. “ Sssst… mbak Wid pun bicara tentang diriku. “Duh Renjani, Renjani, Renjani… saya tahu kamu sangat sayang sama Dewa, tetapi anak itu mengerti omongan kita. Itu anak tidak mengerti apa-apa…” Kuperhatikan kedua perempuan itu. Renjani begitu nama ibuku, seperti selalu mencoba memaklumi Mbak Wid yang betapa pun seperti telah menyerahkan hidupnya demi bayi-bayi cacat di rumah asuh ibu Sejati (hlm.18).
Pada dasarnya novel ini sarat dengan nilai-nilai moral. Dewa sebgai pribadi autis dan tuna daksa secara fisik seorang cacat yang diyakini tidak memiliki kemampuan untuk mengerti bahasa komunikasi manusia normal. Dalam keberadaannya itu renjani tetap memperlakukan Dewa sebagai mana manusia normal. Ia patut dihargai sebagai manusia yang bermartabat.
Ketika kehidupan tidak dihargai lagi, ketika nilai-nilai moral dan semangat cinta kasih tercabik-cabik. Renjani hadir membawa inspirasi dan pengharapan bagi orng-orang yang tidak berdaya. Apa yang dianggap sebagai mitos bahw a dengan cinta kasih dan ketulusan hidup dapat diubah. Ini tercermin dalam kisah ini. Ketulusan cinta Bhisma mendorongnya merawat Dewa ketika Renjani akhirnya meninggal akibat kanker rahim yang ia derita.
“.Aku ternyata memang mendongak di kuburan, bagaikan melihat ibuku terbang seperti bidadari di langit. Bhisma tertegun dengan biolanya. Tanpa kusadari dari mulutku keluar suara. “D…de…f…faa shaa… aaang ..iii..bu..” Bhisma mengangkat dan mendekapku, seperti mendekap cinta ke dalam hatinya (hlm.191).
Hampir keselurauhan watak Renjani dan Bhisma merupakan idealisme sebuah totalitas hidup dalam mencintai. Karya ini menjadi sangat patut dihargai karena memiliki muatan nilai moral yang tinggi. Cocok utnuk dijadikan sebagai sarana penyampaian pesan moral bagi para pembaca. Novel ini mempengaruhi pembaca untuk memiliki ketulusan dan semangat untuk mencintai orang-orang yang tidak berdaya sperti Dewa dan bayi-bayi tuna daksa lainnya sehingga mereka dapat bertumbuh atau setidaknya mampu bertahan hidup dengan penderitaan dan situasi kurang menguntungkan yang mereka alami. Yang menjadi kelemahan dari novel ini adalah jalan cerita yng terlalu idealis. Apakah masih ada seorang Renjani yang totalitasnya seperti yang terdapat dalam Novel ini? Apakah novel ini menjadi hanya sebuah dongeng pengantar tidur belaka?
PENDEKATAN OBJEKTIF
Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian kepada sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebgai struktur yang otonom dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarang, maupun pembaca. Wellek & Warren (1990) menyebut pendekatan ini sebagai pendekatan intrinsik karya sastra yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri. ( Wellek, melalui Wiyatmi, 2006:87).
TANGGAPAN
Novel biola Tak Berdawai berlatar kota Yogyakarta pada era tahun 2003. pada umumnya setting diketengahkan di Panti asuhan anak-anak tuna daksa. Dengan alur penceritaan flashback hal ini dapat dilihat pada episode novel pada bab 11 (hlm. 77) secara mundur mengisahkan kembali pengalaman buruk atas tindak perkosaan yang dialami Renjani. Penceritaan adegan-adegan dalam novel ini diselingi dengan kisah pewayangan hal ini menyempurnakan penyampaian lapis arti di mana kisah Renjani memiliki kesamaan dengan kisah pewayangan. Kisah-kisah peayangan ini sekaligus digunakan untuk menyampaikan stratum metafisika sebagai unsur yang intrinsik dalam keagungan sebuah tindakan totalitas seorang Renjani dalam pengabdian kepada anak-anak tuna daksa.
Dengan mengetahui norma-norma karya sastra ini, tahulah kita sekarang bahwa menilai karya sastra haruslah kita menilai berdasarkan norma-norma karya sastra itu, kita tidak hanya menilai “isi” dan “bentuk” karya sastra saja tetapi harus menilai sampai di mana kekuatan bunyi dapat dilaksanakan pengarang, bagaimana sastrawan menyusun kata-kata, atau kalimat, menyusun plot, berhasil atau tidakkah, juga sampai di manakah harga atau nilai pikiran-pikiran pengarang yang diungkapkan dalam karya lewat norma-normanya itu, dan bagaimana segi-segi atau norma-norma lainnya (Pradopo,1994:56).
Tanpa dawai, bagaimana biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya-tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu baaikan biola tak berdawai….(Ajidharma, 2003:1).
Refleksi penulis tentang korelasi antara jiwa dan tubuh digambarkan dengan memetaforakan antara biola dan dawai dengan badan dan jiwa. Tanpa dawai bagaimana biola bisa bersuara? Pilihan kata biola menjadi manifestasi keberadaan tubuh dan jiwa manusia. “menjelmakan jiwa” pilihan kata yang memiliki peran menghadirkan lapis arti syntgma sekaligus lapis suara yang menimbulkan efek bunyi yang indah untuk didengar.
“Kehidupan kepompong bergunakah kehidupan seperti itu? Tentu berguan, jika kepompong Itu akan menjelma menjadi kupu-kupu kembali, melayang menemukan dirinya kembali. Begitu kuat keinginanku untuk mengembalikan kebahagiaan ibuku.” (Ajidharma, 2003:81).
Secara keseluruhan gaya penceriataan novel ini memiliki keseimbangan antara gaya bahasa yang lugas sekaligus penggunaan metafora. Meski pun pemakaian makna khias cukup tinggi intentitasnya namun bahasa dapat dipahami. Makna dan pesan mudah dicerna karena bahasanya sederhana dan menarik.

PENUTUP
Dengan mendekati Novel ini dengan keempat pendekatan yakni lewat pendekatan mimetik, ekspresif, pragmatik dan objektif, pemahaman tentang esensi terdalam dari pesan Novel Biola tak Berdawai semakin dapat ditemukan. Selain lewat pengkajian karya sastra ini ditunjukkan betapa kompleksnya aspek-aspek yang membangun terciptanya novel biola Tak Berdawai.
Pengalaman ini sangat berguna bagi penulis sebagai mahasiswi PBSID karena lewat pengkajian ini pemahaman tentang hubungan antara ketiga disiplin ilmu Sejarah Sastra, Kritik Sastra dan Sastra semakin diperkaya. Pengkajian yang sederhana ini diharapkan dapat diperkembangkan menjadi sesuatu yang berguna bagi kemajuan bersastra dan kegiatan ilmiah penulis.

DAFTAR PUSTAKA

Ajidharma, Seno Gumira, “Biola Tak Berdawai”, PT. Andal Krida Nusantara, Jakarta, 2004
Bertens, “Sketsa-sketsa Moral”, Kanisius, Yogyakarta, 2004.
_______”Keprihatinan Moral”, Kanisius, Yogyakarta, 2003.
Pradopo, Rachmat Djoko,”Prinsip-prinsip Kritik Sastra”, Gadjah Mada University Pres, Yogyakarta, 1994.
Wiyatmi, “Pengantar Kajian Sastra”, Pustaka, Yogyakarta, 2006.

PROSEDUR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL (PPSI)

November 4, 2008

PROSEDUR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL (PPSI)

A. Definisi
PPSI adalah sistem yang saling berkaitan dari satu instruksi yang terdiri atas urutan, desain tugas yang progresif bagi individu dalam belajar (Hamzah B.Uno, 2007). Oemar Hamalik (2006) mendefinisikan PPSI sebagai pedoman yang disusun oleh guru dan berguna untuk menyusun satuan pelajaran.

B. Komponen
Komponen-komponen yang terdapat dalam PSSI adalah sebagai berikut.
1. Pedoman perumusan tujuan
Pedoman perumusan tujuan memberikan petunjuk bagi guru dalam merumuskan tujuan-tujuan khusus. Perumusan tujuan khusus itu berdasarkan pada pendalaman dan analisis terhadap pokok-pokok bahasan/ subpokok bahasan yang telah digariskan untuk mencapai tujuan instruksional dan tujuan kurikuler dalam GBPP.

Diagram tujuan instruksional khusus (TIK)
Hirarki tujuanpendidikan Hirarki penjenjangan sekolah dan keluasan materi pelajaran
Tujuan pendidikan nasional â Tujuan pendidikan institusinalâ Tujuan pendidikan Kurikulerâ Tujuan intrusional umum (TIU)â Tujuan intruksional khusus (TIK) Seluruh usaha pendidkan masyarakat Indonesia Berkaitan dengan jenis dan jenjang pendidikan formalApa yang akan dicapai lewat bidang studi tertentu.Apa yang akan dicapai dalam pembahasan tertentu.Apa yang akan dicapai dalam pembahasan topik pelajaran atau satuan bahasan tertentu.

2. Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian
Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian memberikan petunjuk tentang prosedur penilaian yang akan ditempuh, tentang tes awal (pre test) dan tes akhir (post test), tentang jenis tes yang akan digunakan dan tentang rumusan soal-soal tes sebagai bagian dari satuan pelajaran. Tes yang digunakan dalam PPSI disebut criterion referenced test yaitu tes yang digunakan unuk mengukur efektifitas program/ pelaksanaan pengajaran.

3. Pedoman proses kegiatan belajar siswa
Pedoman proses kegiatan belajar siswa merupakan petunjuk bagi guru untuk menetapkan langkah-langkah kegiatan belajar siswa sesuai dengan bahan pelajaran yang harus dikuasai dan tujuan khusus instruksional yang harus dicapai oleh para siswa.
Dalam menentukan metode atau alat bantu pengajaran yang akan dipakai untuk mencapai tujuan (TIK), para guru dan calon guru dituntut:
a. Menyadari bahwa TIK dan sifat bahan adalah dasar untuk menentukan metode dan alat bantu pengajaran.
b. Guru menguasai berbagai metode secara fungsional misalnya metode ceramah, diskusi, dll.
c. Mempertimbangkan fasilitas yang ada.
d. Setiap pelaksanaan metode pengajaran harus mempertimbangkan kondisi situasi murid dan berusaha untuk aktivitas belajarnya.
e. Apakah guru tersebut benar-benar mampu melaksanakan metode beserta alat bantu pengajaran yang dipilihnya.

4. Pedoman program kegiatan guru
Pedoman program kegiatan guru merupakan petunjuk-petunjuk bagi guru untuk merencanakan program kegiatan bimbingan sehingga para siswa melakukan kegiatan sesuai dengan rumusan TIK. Dalam hubungan ini guru perlu:
a. Merumuskan materi pelajaran secara terperinci
Hal ini dimaksudkan agar guru mampu menjabarkan materi pelajaran secara:
1) jelas kegunaannya untuk mencapai TIK;
2) sesuai dengan pengalaman murid;
3) terjamin kebenaran ilmiahnya;
4) mampu mengikuti perkembangan ilmu tersebut;
5) representatif; dan
6) dan berguna bagi kehidupan murid sehari-hari.
b. Memilih metode-metode yang tepat
Guru menentukan lamanya waktu pelajaran berdasarkan keberagaman isi TIK dan tingkat kesukaran materi pelajaran. Guru juga dituntut untuk mempertimbangkan jenis metode serta alat bantu pengajaran yang dipilih.
c. Menyusun jadwal secara terperinci.
Sebelum melangkah ke pelaksanaan, satuan pelajaran sebagai persiapan tulis lengkap harus telah selesai disusun.

5. Pedoman pelaksanaan program
Pedoman pelaksanaan program merupakan petunjuk-petunjuk dari program yang telah disusun. Petunjuk-petunjuk itu berkenaan dengan dimulainya pelaksanaan tes awal dilanjutkan dengan penyampaian materi pelajaran sampai pada dilaksanakannya penilaian hasil belajar.
Langkah ini terdiri dari 3 macam kegiatan, ialah:
a. Mengadakan pre-test
Tes yang kita berikan pada siswa adalah tes yang disusun pada langkah kedua. Fungsi dari pre-test ini untuk menilai sampai di mana siswa telah menguasai keterampilan yang tercantum dalam TIK.
b. Penyampaian materi pelajaran
Guru menyampaikan materi pelajaran kepada murid/guru membimbing murid untuk mendalami dan mengusai materi pelajaran.
c. Mengadakan evaluasi
Post-test yang telah disusun pada langkah kedua diberikan pada murid-murid setelah mereka mengikuti program pelajaran.

Diagram evaluasi

Pre-test guru bersama murid mendalami post-test
Tujuan

Menguasai materi pelajaran

· Pre-test
Bertujuan untuk menilai kemampuan murid yang tercantum dalam TIK. Sebelum mereka mengikuti program pengajaran (secara praktis pre-test untuk menilai kemampuan murid mengenai penguasaan materi palajaran sebelum mereka dibimbing guru menguasai materi pelajaran yang telah diprogramkan).
· Post-test
Berfungsi untuk menilai kemampuan-kemampuan murid setelah pengajaran diberikan. Post-test digunakan untuk menilai efektifitas pengajaran.

6. Pedoman perbaikan atau revisi
Pedoman perbaikan atau revisi yang merupakan pengembangan program setelah selesai dilaksanakan. Perbaikan dilakukan berdasarkan umpan balik yang diperoleh berdasarkan hasil penilaian akhir.

C. Prosedur
Oemar Hamalik (2006) menggambarkan prosedur penyusunan PPSI sebagai berikut.
Diagram PPSI

D. Kriteria Pembuatan Model Satuan Pelajaran
Kriteria ini dimaksudkan sebagai pedoman pembuatan dan penilaian Model Satuan Pelajaran (MSP), yang perlu dilakukan oleh setiap calon guru/ guru dalam rangka melaksanakan PPSI. Beberapa kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut.
1. Apakah pokok bahasan dan subpokok bahasan telah diidentifikasi dan dijadikan dasar dalam menentukan “Satuan Bahasan” yang akan diajarkan?
2. Kelas berapa dan berapa lama pengajaran itu akan diberikan?
3. Apakah telah dirumuskan tujuan instruksional umum (TIU) yang bersumber dari TIU dalam GBHN?
4. Apakah tujuan instruksional khusus (TIK) telah dirumuskan secara spesifik, operasional, jelas, relevan, dan berdasarkan TIU?
5. Apakah materi pelajaran telah diperinci sedemikian rupa berdasarkan bahan pengajaran dalam GBPP dan tujuan khusus yang hendak dicapai?
6. dst.

E. Bentuk Satuan Pelajaran
Bentuk kegiatan-kegiatan dari Satuan Pelajaran (TIU, TIK, Materi Pelajaran, dll) dapat disusun secara horizontal atau vertikal. Oemar Hamalik (2007) menetapkan bentuk vertikal setelah didasarkan pertimbangan praktis. Bentuk satuan pelajaran yang dimaksud adalah sebagai berikut.

F. Contoh PPSI
Topik : Apa itu unsur-unsur intrinsik
TIK : Siswa mampu menemukan unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam novel / cerpen

Pengembangan alat evaluasi
1. Penggalan naskah cerpen / novel
2. Video rekaman pembacaan cerpen / novel
3. Rumusan pertanyaan / tes
4. dll.

Bahan Satuan Bahasan
1. Menyimak
2. Diskusi
3. Permainan

Pengembangan Satuan Bahasan
1. Memperkenalkan sastra kepada siswa
2. Memberikan materi tentang unsur-unsur intrinsik / materi yang kita berikan
3. Melatih siswa menentukan unsur intrinsik dari video yang diberikan.

Pelaksanaan Program
1. Menggunakan Pre-test
2. Menggunakan Post-test
3. Remidial

Bentuk Satuan Pelajaran

Bidang studi : …………………………………………………………………………..
Subbidang studi : …………………………………………………………………………..
Satuan Bahasan : …………………………………………………………………………..
Semester : …………………………………………………………………………..
Waktu : …………………………………………………………………………..

I. Tujuan Intruksional Umum
………………………………………..
………………………………………..

II. Tujuan Intruksional Khusus
…………………………………………
………………………………………..
dst.

III. Materi Pelajaran
1. ……………………………………
1.1. ………………………..
1.2. ………………………..
2. …………………………………..
2.1. ………………………..
2.2. ………………………..
dst.

IV. Kegiatan Belajar Mengajar
1. Metode
2. Pokok-pokok kegiatan

Siswa Guru
1. ……………………………… 1. ………………………………..
2. …………………………….. 2. …………………………………

V. Alat-alat Pelajaran dan Sumber
1. Alat pelajaran
1.1. …………………………..
1.2. ……………………………
2. Sumber bahan
2.1. ………………………….
2.2. ………………………….
2.3. ………………………….

VI. Evaluasi
1. Prosedur
1.1. …………………………
1.2. ………………………..
1.3. ………………………..
2. Alat evaluasi (jenis tes)
2.1. ….…………………….
2.2. ………………………..
3. Soal-soal tes.

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Prof. Dr. Oemar. 2006. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta : Bumi Aksara.

Uno, Dr. Hamzah B. M.Pd., 2007. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Samana, 1982. Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional. Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma.

MODEL PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN

November 4, 2008

MODEL PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN
MODEL DICK & CARREY

I. Pendahuluan
Pengembangan perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan yang telah ada.
Sebagai seorang tenaga pengajar ( guru), aktivitas kegiatannya tidak dapat dilepaskan dengan proses pengajaran. Sementara proses pengajaran merupakan suatu proses yang sistematis, yang tiap komponennya sangat menentukan keberhasilan belajar anak didik.
Demikian pula hanya sitem mata pelajaran tertentu, tujuan sistem-sistem itu adalah untuk menimbulkan belajar (learning) yang komponen belajarnya meliputi, peserta didik atau siswa, instruktur, pendidik (guru), materi pelajaran, dan lingkungan pengajaran ( Uno, Hamzah, 2006:22 ).
Modal perencanaan pengajaran Dick & Carrey, berorientasi pada dua hal yaitu, pengetahuan dan hasil. Pengetahuan dipakai sebagai sumber informasi tentang konsep-konsep, prinsip-prinsip rancangan instruksional dan langkah-langkahnya, sedangkan untuk memperoleh hasil yang memuaskan perlu dilakukan evaluasai berulang kali.
Sama seperti model-model pengembangan lainnya, model Dick & Carrey juga menerapkan model pendekatan sistem untuk perancangan instruksionalnya. pendekatan ini merupakan cara untuk memandang sesuatu secara menyeluruh dan sistematik. dalam menentukan tujuan instruksionalnya, model Dick & Carrey menyebutkan ada empat sumber, yaitu kurikulum lembaga pendidikan yang bersangkutan, pendapat ahli bidang, hasil analisis tugas, dan hasil observasi (Soekamto, Toeti. 1993:45)

II. Langkah-Langkah Penerapan Pendekatan Sistem Untuk Perancangan Sistem Instruksional Model Dick & Carrey
Berbagai model dapat dikembangkan dalam mengorganisisr pengajaran. Satu diantara model itu adalah model Dick And Carrey (1985 via Uno, 2008:23).Model Dick And Carrey digolongkan sebagai model yang berorentasi pada dua hal, yaitu:
1. pengetahuan, model tersebut dipakai sebagai sumber informasi tentang konsep-konsep, prinsip-prinsip perangcangan intruksional dan langkah-langkahnya.
2. hasil, menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip perancangan yang menghasilkan suatu bahan intruksional yang dapat dipakai belajar secara mandiri tanpa bantuan guru. Disini pun evaluasi dilaksanakan berulang kali sampai dapat memperoleh hasil yang memuaskan
Dick And Carrey menerapkan pendekatan sistem untuk perancangan sistem intruksional dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi Tujuan Pembelajaran( Tujuan utama atau terminal)
Tujuan utama atau terminal menyatakan apa yang dapat dilakukan oleh siswa setelah mengikuti program-program intruksional tersebut. Sumber penentuan tujuan dapat bersumber dari penilaian kebutuhan, tujuan-tujuan yang ada, pengalaman praktis dengan siswa yang mengalami kesulitan belajar, analisis suatu tugas dan sebagainnya.Di sisni tujuan terminal perlu dinyatakan dalam bentuk yang dapat dilihat dan diukur seperti yang dinyatakan oleh Mager. Hal ini untuk mempermudah pengukuran keberhasilan siswa mencapai tujuan intruksional tersebut.
2. Melakukan Analisis Pembelajaran
Menentukan macam atau jenis belajar apa yang akan dipelajari siswa berdasarkan kalsifikasi Gagne ( lima macam belajar). Tujuan terminal di analisis dan dipecah-pecah menjadi kettrampilan-ketrampilan yang perlu dipelajari siswa dalam usaha mencapai tujuan akhir.
3. Mengidentifikasi kemampaun awal dan karakteristik Siswa (mengenali tingkah laku masukan dan ciri-ciri siswa)
Menentukan ketrampilan-ketrampilan apa yang harus sudah dilakukan oleh siswa agar dapat mengikuti program intruksional dengan baik. Perlu diketahui adanya beberapa karakterristik siswa yang dapat mempengaruhi keberhasilannya misal, tingkat pendidikan, motivasi, tingkat intelektual status sosial ekonomi, dan sebagainnya.

4. Merumuskan Tujuan Intruksional Khusus (TIK) atau merumuskan tujuan performansi
Atas dasar analisis pembelajaran dan keterangan tentang tingkah laku masukan, selanjutnya menyusun pernyataan spesifik tentang apa yang akan mampu dilakukan siswa ketika menyelesaikan pembelajaran. Pernyataan yang dijabarkan dari keterampilan-keterampilan yang dikenali dengan jalan melakukan analisis pembelajaran ini perlu menyebutkan keterampilan-keterampilan yang harus dipelajari (dikuasai) siswa, kondisi perbuatan yang menunjukan keterampilan itu, dan kreteria bagi unjuk perbuatan (performansi) yang berhasil.
Menurut Dick and Carrey ( 1985 dalam Uno, Hamzah, 2007: 27) menyatakan bahwa tujuan performansi terdiri dari:
a. Tujuan harus menguraikan apa yang akan dikerjakan, atau diperbuat oleh anak didik.
b. Menyebutkan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat, yang hadir pada waktu anak didik berbuat.
c. Menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang dimaksudkan pada tujuan.
Menurut Gagne, Briggs, dan Mager menjelaskan bahwa fungsi performansi objektif adalah:
a. menyediakan suatu sarana dalam kaitannya dengan pembelajaran untuk mencapai tujuan;
b. menyediakan suatu sarana berdasarkan suatu kondisi belajar yang sesuai;
c. memberikan arah dalam mengembangakan dalam pengukuran atau penilaian;
d. membantu anak didik dalam usaha belajarnya.
5. Pengembangan Butir-Butir tes Berdasarkan Acuan Patokan.
Pengembangan butir-butir tes berdasarkan acuan patokan yang digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa telah mencapai tujuan instruksional. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membandingkan penampilan siswa dalam pengujian dengan patokan yang telah ditentukan sebelumnya. Tes acuan patokan disebut juga tes acuan tujuan.
Bagi seorang perancang pembelajaran harus mengembangkan butir tes acuan patokan, karena hasil tes pengukuran tersebut berguna untuk:
(a). mendiagnosis dan menempatkan dalam kurikulum;
(b). menceking hasil belajar dan kesalahan pengertian sehingga dapat diberikan pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutkan;
(c). menjadi dokumen kemajuan belajar.
Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan Dick and Carrey ( 1985) merekomendasikan empat macam tes acuan patokan, yaitu:
(1). test antry behaviors atau tes untuk mengukur kemampuan awal, yang merupakan prasyarat bagi program instruksional tersebut. Kadang-kadang tes ini tidak perlu, khususnya bila diyakini bahwa prograrn tersebut merupakan sesuatu yang baru bagi siswa yang akan mengikuti. Atau apabila program tersebut memeng tidak memerlukan suatu prasyarat tertentu.
(2). pretest atau tes awal merupakan tes acuan patokan yang berguna untuk mengukur sejauh mana siswa telah menguasai materi yang akan diajarkan. Bila program tersebut merupakan sesuatu yang baru, maka tes inipun dapat ditiadakan. Maksud dari pretes ini bukanlah untuk menentukan nilai akhir tetapi lebih mengenal profil anak didik berkenaan analisis pembelajaran.
(3). tes selama siswa sedang dalam proses belajar (Uno, 2007: 28, tes tersebut tes sisipan). tes ini berfungsi untuk melihat apakah siswa memang telah dapat menangkap apa yang sedang dibicarakan. Tes ini diadakan setelah materi selesai diberikan.
(4). Tes akhir atau pasca tes. Merupakan tes acuan patokan yang mencakup pengukuran semua tujuan intruksional khusus yang ada terutama tujuan intruksional yang bersifat terminal. Dengan tes ini dapat diketahui bagian-bagian mana diantara pembelajaran yang belum dicapai.
6. Pengembangan Srategi Intruksional ( siasat pembelajaran).
Dalam strategi pembelajaran, menjelaskan komponen umum suatu perangkat meterial suatu pembelajaran dan mengembangkan materi secara prosedural haruslah berdasarkan karakteristik siswa, karena material pembelajaran yang dikembangkan, pada akhirnya dimaksudkan untuk membantu siswa untuk memperoleh kemudahan dalam belajar. Dick and Carrey (1985) dalam (Uno, 2007: 29), mengemukakan bahwa dalam merencanakan satu unit pembelajaran ada tiga tahap, yaitu:
(a). mengurutkan dan merumpunkan tujuan ke dalam pembelajaran,
(b). merencanakan pembelajaran, pengetesan dan kegiatan tindak lanjut,
(c). menyusun alokasi waktu berdasarkan strategi pembelajaran.
Dengan mengurutkan tujuan kedalam pembelajaran dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakana bagi si pembelajar. Ada lima komponen strategi pembelajaran, yaitu:
(1). kegiatan pra pembelajaran.
Kegiatan ini dianggap penting karena dapat memotifasi anak didik. Pemberitahuan tentang tujuan intruksional apa yang harus dicapai siswa setelah mengikuti program tersebut juga tentang keterampilan atau kemampuan yang merupakan prasyarat untuk mempelajari program.
(2). penyajian informasi.
Dengan penyajian informasi, anak didik menjadi tahu sejauh mana materi pembelajaran yang harus mereka pelajari, disajikan sesuai urutannya, keterlibatan mereka dalam setiap kegiatan pembelajaran.
(3). Partisipasi atau peran serta siswa.
Dalam hal ini anak didik harus diberi kesempatan berlatih atau terlibat dalam setiap langkah pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran. Semakin banyak keterlibatan anak didik dalam pembelajaran maka akan semakin baik perolehan belajar anak didik tersebut.

(4). Pengetesan.
Pengetesan dilakukan untuk memberikan umpan balik kepada pengajar untuk memperbaiki, merevisi baik materi pembelajaran, strategi, maupun strategi pengetesan.
(5). Kegiatan tindak lanjut.
Aktivitas ini menyangkut pertanyaan-pertanyaan apakah perlu ada bahan remidial? Strategi apakah yang diperlukan? Apakah perlu bahan pengayaan? Aktvitas ini dirancang setelah diperoleh umpan balik dari hasil uji coba di lapangan.
7. Perancangan Intrusional ( Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran).
Dick and Carrey menyarankan ada tiga pola yang dapat digunakan pengajar untuk merancang atau menyampaikan pembelajaran, yaitu:
(a). pengajar merancang bahan pebelajaran individual, semua tahap pembelajaran dimasukkan, kecuali pretes dan postes.
(b). pengajar memilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai dengan strategi pembelajaran.
(c). pengajar tidak memakai bahan, tetapi menyampaikan semua pembelajaran menurut stategi pembelajaran yang telah disusunnya.
Kebaikan stategi ini adalah pengajar dapat dengan segera memperbaiki dan memperbaharui pembelajaran bila terjadi perubahan isi adapun kelemahannya adalah sebagaian waktu tersita untuk menyampaikan informasi, sehingga sedikit sekali waktu membantu anak didik.
8. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Formatif
Hal ini dilakukan karena evalasi ini merupakan salah satu langkah dalam mengembangkan desain pembelajaran yang bertugas untuk mengumpulkan data dan untuk perbaikan pembelajaran. Ada tiga fase penilaian formatif, yaitu:
a. Fase perorangan atau fase klinis. Pada fase ini perancang bekerja dengan siswa secara perseorangan untuk memperoleh data guna menyempurnakan bahan pembelajaran.
b. Fase kelompok kecil, terdiri atas delapan sampai sepuluh orang yang merupakan wakil cerminan populasi sasaran mempelajari bahan secara mandiri, dan kemudian diuji untuk memperoleh data yang diperlukan.
c. Fase uji lapangan.
9. Merevisi Bahan Pembelajaran
Hal ini dilakukan untuk menyempurnakan bahan pembelajaran sehingga lebih menarik, efektif bila digunakan dalam keperluan pembelajaran, sehingga memudahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dick and Carrey (1985) mengemukan ada dua revisi yang perlu dipertimbangkan yaitu:
a. Revisi terhadap isi atau subtansi bahan pembelajaran agar lebih cermat sebagai alat belajar.
b. Revisi terhadap cara-cara yang dipakai dalam menggunakan bahan pembelajaran.
Untuk keperluan bahan pembelajaran ada empat macam keterangan pokok yang menjadi sumber dalam melakukan revisi, yaitu:
a) Ciri anak didik dan tingkah laku masukan
b) Tanggapan langsung terhadap pembelajaran termasuk tes sisipan.
c) Hasil pembelajaran paska tes.
d) Jawaban terhadap kuesioner.
10. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif
Melalui evaluasi sumatif dapat ditetapkan atau diberikan nilai, apakah suatu desain pembelajaran, dimana dasar keputusan penilaian didasarkan pada keafektifan dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, evaluasi sumatif diarahan pada keberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, yang diperlihatkan oleh unjuk kerja siswa (Uno, Hamzah. 2007:32-33).

III. Perbedaan Model Dick and Carrey dengan Model Kemp, dan PPSI.

Perbedaan
No Dick and Carrey PPSI Kemp
1 Berorentasi pada tujuan dan hasil pembelajaran Berorentasi pada tujuan pembelajaran Berorentasi pada tujuan, evaluasai, dan sumber pembelajaran
2 Menuntut karakteristik siswa, bidang studi, dan kondisi lapangan Tidak menuntut adanya karakteristik siswa Menuntut adanya karakteristik siswa
3 Revisi berlaku untuk semua komponen kecuali evaluasi sumatif Revisi berlaku untuk keseluruhan komponen satuan pembelajaran Revisi hanya pada sebagian sistem (komponen tertentu)

IV. Kelebihan model Dick and Carrey
Model Dick and Carrey mempunyai beberapa kelebihan, yaitu;
a. Model ini cocok bagi pemula, karena setiap langkah mempunyai maksud dan tujuan yang sangat jelas,
b. Antara langkah yang satu dengan yang lainsaling berkesinambungan,
c. pengajar dapat dengan segera memperbaiki dan memperbaharui pembelajaran bila terjadi perubahan isi.

V. Penutup
Model Dick and Carrey merupakan salah satu model perencanaan pengajaran yang dipakai untuk penyusunan silabus yang sistematis demi tercapainya kegiatan belajar dan mengajar yang efektif. Model ini lebih memperhatikan karakteristik siswa, berorentasi pada hasil pembelajaran. Proses merupakan hal terpenting dalam model ini. Revisi dan uji coba yang dilakukan berulang kali akan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal.
Model Dick and Carrey terdiri atas sepuluh langkah dimana setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya, sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model Dick and Carrey menunjukkan hubungan yang sangat jelas dan saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.
.

Aplikasi Model Dick and Carrey
I. Menentukan TIU
Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ semester : X/ 1
Standar Kompetensi :
Mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman melalui pantun dan dongeng.
Kompetensi Dasar :
Menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun.
II. Melakukan Analisis Pembelajaran.
III. Mengidentifikasi tingkah laku, masukan, dan karakteristik siswa.
Aplikasi ini cocok digunakan untuk siswa kelas X semester 1
IV. TIK
Indikator Pembelajaran : Siswa mampu menjelaskan pengertian pantun
Siswa mampu menyebutkan macam-macam pantun
V. Mengembangkan Butir-Butir Tes Acuan Patokan.
1. Pretest : Tanya jawab mengenai pantun.
2. Behavior : Siswa membacakan pantun di depan kelas.
3. Tes sisipan: Siswa dapat menyebutkan pengertian pantun berdasarkan materi yang diberikan dan siswa dapat myebutkan macam-macam pantun.
4. Postes: Menyebutkan pengertian dan macam-macam pantun beserta contohnya.

VI. Strategi Pembelajaran
1. Metode Integratif
2. Metode kooperatif
3. Metode komunikatif
KBM
1. Kegiatan Pendahuluan
2. Kegiatan Inti
3. Kegiatan Penutup
VII. Pengembangan Materi Pembelajaran
1. Materi pembelajaran:
Menjelasakan pengertian pantun dan macam-macam pantun (diuraikan)
VIII. Mendesain dan Melaksanakan Uji Formatif
1. Fase perorangan atau fase klinis : menulis pantun
2. Fase kelompok kecil : menganalisa pantun yang dibuat oleh siswa lain
3. Uji lapangan : membacakan karya tulisnya (pantun) di depan kelas
IX. Merevisi Bahan Pembelajaran
Melakukan revisi sistem pembelajaran yang telah dilakukan.
X. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif
1. Siswa menganalisis pantun yang diberikan oleh guru sesuai dengan materi yang dipelajari.
2. Siswa membuat pantun.

Daftar Pustaka

Soekamto, Toeti. 1993. Perencangan dan Pengembangan Sistem Intruksional. Jakarta: Intermedia.
Uno, Hamzah. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Angkasa.