Model Perencanaan

PERENCANAAN PENGAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
MODEL BANATHY

A. Pendahuluan
Pengembangan sistem instruksional adalah suatu proses menentukan dan menciptakan situasi dan kondisi tertentu yang menyebabkan siswa dapat berinteraksi sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan di dalam tingkah lakunya. (Carey, 1977: 6). Istilah pengembangan sistem instruksional dan desain instruksional sering dianggap sama.
B. Pembahasan
Model Banathy dikembangkan pada tahun 1968 oleh Bela H. Banahty. Model yang dikembangkannya ini berorientasi pada hasil pembelajaran, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sistem. Menurut Harjanto (2006:94) pendekatan sistem didasarkan pada kenyataan bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan suatu hal yang sangat kompleks, terdiri atas banyak komponen yang satu sama lain harus bekerja sama secara baik untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
Menurut Banathy (1972), pengembangan instruksional meliputi enam tahap, yaitu:

· TAHAP I : Merumuskan Tujuan Pembelajaran ( Formulate objectives )
Guru merumuskan kemampuan ynag harus dikuasai siswa atau yang diharapkan guru kepada siswa untuk dikerjakan, diketahui, dan dirasakan dari hasil pengalaman belajar.
a. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Menurut Gronlund, TIU adalah hasil belajar yang diharapkan, yang dinyatakan secara umum dan berpedoman pada perubahan tingkah laku dalam kelas. Kegunaan TIU dalam proses belajar mengajar:
• memberikan kriteria yang pasti untuk mengukur kemajuan belajar peserta didik
• memberikan kepastian mengenai kemampuan yang diharapkan dari peserta didik
• memberikan dasar untuk mengembangkan alat evaluasi untuk mengukur efektivitas pengajaran
• memberikan petunjuk dalam menentukan materi dan strategi instruksional
• petunjuk bagi peserta didik tentang apa yang akan dipelajari dan apa yang akan dinilai
• peserta didik akan mengorganisasikan usaha dan kegiatannya untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan
Menurut Gronlund, dalam perumusan TIU hal-hal yang harus diperhatikan adalah:
• Tujuan yang diharapkan secara umum
• Tidak terlepas dari konteks tujuan kurikuler maupun tujuan yang di atasnya
• Selaras dengan prinsip-prinsip belajar
• Sesuai dengan kemampuan peserta didik, waktu yang tersedia, dan fasilitas
• Mempunyai indikasi yang kuat bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku peserta didik

b. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
TIK adalah hasil belajar yang diharapkan yang dinyatakan dalam istilah perubahan tingkah khusus. Menurut Gronlund (1975: 30), tingkah laku khusus adalah kata kerja yang dapat diamati atau diukur. Menurut Mager, dalam merumuskan TIK yang lengkap hendaknya mencakup unsur-unsur:
• Performance
• Conditions
• Criterion
TIK yang sempurna hendaknya mampunyai 5 unsur, yaitu:
• Audience
• Behaviour
• Conditions
• Kriteria/degree
• Single performance

· TAHAP II : Mengembangakan Tes ( Develop test )
Guru mengembangkan tes yang didasarkan pada tujuan yang akan dicapai untuk mengetahui kemampuan yang telah dicapai.
· TAHAP III : Menganalisis Kegiatan Belajar ( Analyze learning task )
Merumuskan apa yang harus dipelajari ( kegiatan belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka mencapai tujuan belajar ). Kemampuan awal siswa harus dianalaisis atau dinilai agar mereka tidak perlu mempelajari apa yang telah mereka kuasai. Ada 3 tahap Analisis :
1. Analisis dan penentuan tugas –tugas apa yang perlu dilakukan dalam proses belajar
2. Penilaian dan pengujian kompetensi awal
3. Identifikasi serta penentuan tugas yang sesungguhnya
· TAHAP IV : Mendesain Sistem Instruksional ( Desingn system )
Mempertimbangkan alternative dan identifikasi apa yang harus dikerjakan. Dalam langkah ini ditetapkan jadwal dan tempat pelaksanaan dari masing-masing komponen instruksional. Ada 4 tahap dari perancangan Pembelajaran
1. Analisis Kegiatan ( Fuction analysis )
2. Analisis Komponen ( Component analysis )
3. Pembagian fungsi pada tiap komponen
4. Penjadwalan

· TAHAP V : Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil ( Implement and test output )
Desain yang telah dibuat diujicobakan ( dilaksanakan ). Selain itu dalam tahap ini perlu diadakan penilaian atas apa yang dilakaukan siswa agar dapat diketahui seberapa jauh siswa mampu mencapai hasil belajar
· TAHAP VI : Mengadakan Perbaiakan ( Change to improve )
Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik ( feed back ) untuk mengadakan perubahan-perubahan ( perbaikan ).

PENGEMBANGAN INSTRUKSIONAL MODEL BANATHY

Formulasi model belajar
Merancang
Sistem
Anaslisis Tugas
I III IV
Formulasi Analisis Tugas Merancang
model belajar Sistem

Implementasi dan Pengujian Hasil
Pengembangan Tes
II V
Pengembangan V
Tes Implementasi dan
Pengujian hasil

Perubahan Untuk memperbaiki Sistem
VI
Perubahan untuk memperbaiki sistem

KEKURANGAN DAN KELEBIHAN MODEL PERENCANAAN BANATHY
Menurut Rishe (handout), kekurangan dan kelebihan model perencanaan Banathy adalah:
o KELEBIHAN
– Berorientasi pada kemampuan siswa
– Pembelajaran berdasarkan pada analisis tugas
– Revisi didasarkan pada identifikasi kelebihan dan kekuatan implementasi
– Ada tiga aspek kompetensi ( kognitif, afektif, dan psikomotorik )
– Ada pengujian dan revisi system
o KEKURANGAN
– Tidak memberikan perhatian khusus pada proses pengembangan tes
– Tidak ada spesifikasi yang jelas tentang cara perancangan sistem

CONTOH PERENCANAAN PEMBELAJARAN MODEL BANATHY
Topik :Unsur-Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Puisi
Kompetensi Dasar : Siswa mampu mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu cerpen yang disampaikan secara langsung maupun melalui rekaman
Indikator Pembelajaran :
1. siswa mampu menjelaskan unsur-unsur cerpen, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsik
2. siswa mampu membuat cerpen
3. siswa mampu menganalisis cerpen, baik dari segi unsur maupun penggunaan bahasa
4. siswa mampu memberikan masukan mengenai cerpen yang dibuat teman
Alat evaluasi :
1. bentuk tes esai disampaikan secara lisan dan tulisan
2. soal
a. Jelaskan unsur-unsur puisi, baik unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik!
b. Buatlah sebuah cerpen!
c. Analisislah unsur-umsur dan penggunaan bahasa dan pembacaan!
d. Berikanlah masukan dan tanggapan terhadap cerpen teman!
Kegiatan dan pengalaman belajar
1. Pembelajaran dilakuakan di kelas atau di lab
2. Kegiatan: tugas, latuhan, diskusi, informatif.
3. Rincian pengalaman belajar:
a. siswa menonton dan mendengarkan pembacaan cerpen
b. siswa menentukan dan mendiskkusikan unsur-unsur cerpen
c. siswa melakukan latihan membuat cerpen
d. siswa saling bertukar puisi dan menanggapinya
e. penjelasan akhir dari guru
Materi pembelajaran :
Unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen

Sarana dan media :
TV, VCD player “ pembacaan cerpen”, buku teks pelajaran.
Melaksanakan pembelajaran
Revisi sesuai tahapannya

DAFTAR PUSTAKA

Harjanto. 2006. Perencanaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Dewi, L. Rishe Purnama . Handout Perencanaan Pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: