Archive for Oktober, 2008

Model Perencanaan

Oktober 31, 2008

PERENCANAAN PENGAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
MODEL BANATHY

A. Pendahuluan
Pengembangan sistem instruksional adalah suatu proses menentukan dan menciptakan situasi dan kondisi tertentu yang menyebabkan siswa dapat berinteraksi sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan di dalam tingkah lakunya. (Carey, 1977: 6). Istilah pengembangan sistem instruksional dan desain instruksional sering dianggap sama.
B. Pembahasan
Model Banathy dikembangkan pada tahun 1968 oleh Bela H. Banahty. Model yang dikembangkannya ini berorientasi pada hasil pembelajaran, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sistem. Menurut Harjanto (2006:94) pendekatan sistem didasarkan pada kenyataan bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan suatu hal yang sangat kompleks, terdiri atas banyak komponen yang satu sama lain harus bekerja sama secara baik untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
Menurut Banathy (1972), pengembangan instruksional meliputi enam tahap, yaitu:

· TAHAP I : Merumuskan Tujuan Pembelajaran ( Formulate objectives )
Guru merumuskan kemampuan ynag harus dikuasai siswa atau yang diharapkan guru kepada siswa untuk dikerjakan, diketahui, dan dirasakan dari hasil pengalaman belajar.
a. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Menurut Gronlund, TIU adalah hasil belajar yang diharapkan, yang dinyatakan secara umum dan berpedoman pada perubahan tingkah laku dalam kelas. Kegunaan TIU dalam proses belajar mengajar:
• memberikan kriteria yang pasti untuk mengukur kemajuan belajar peserta didik
• memberikan kepastian mengenai kemampuan yang diharapkan dari peserta didik
• memberikan dasar untuk mengembangkan alat evaluasi untuk mengukur efektivitas pengajaran
• memberikan petunjuk dalam menentukan materi dan strategi instruksional
• petunjuk bagi peserta didik tentang apa yang akan dipelajari dan apa yang akan dinilai
• peserta didik akan mengorganisasikan usaha dan kegiatannya untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan
Menurut Gronlund, dalam perumusan TIU hal-hal yang harus diperhatikan adalah:
• Tujuan yang diharapkan secara umum
• Tidak terlepas dari konteks tujuan kurikuler maupun tujuan yang di atasnya
• Selaras dengan prinsip-prinsip belajar
• Sesuai dengan kemampuan peserta didik, waktu yang tersedia, dan fasilitas
• Mempunyai indikasi yang kuat bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku peserta didik

b. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
TIK adalah hasil belajar yang diharapkan yang dinyatakan dalam istilah perubahan tingkah khusus. Menurut Gronlund (1975: 30), tingkah laku khusus adalah kata kerja yang dapat diamati atau diukur. Menurut Mager, dalam merumuskan TIK yang lengkap hendaknya mencakup unsur-unsur:
• Performance
• Conditions
• Criterion
TIK yang sempurna hendaknya mampunyai 5 unsur, yaitu:
• Audience
• Behaviour
• Conditions
• Kriteria/degree
• Single performance

· TAHAP II : Mengembangakan Tes ( Develop test )
Guru mengembangkan tes yang didasarkan pada tujuan yang akan dicapai untuk mengetahui kemampuan yang telah dicapai.
· TAHAP III : Menganalisis Kegiatan Belajar ( Analyze learning task )
Merumuskan apa yang harus dipelajari ( kegiatan belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka mencapai tujuan belajar ). Kemampuan awal siswa harus dianalaisis atau dinilai agar mereka tidak perlu mempelajari apa yang telah mereka kuasai. Ada 3 tahap Analisis :
1. Analisis dan penentuan tugas –tugas apa yang perlu dilakukan dalam proses belajar
2. Penilaian dan pengujian kompetensi awal
3. Identifikasi serta penentuan tugas yang sesungguhnya
· TAHAP IV : Mendesain Sistem Instruksional ( Desingn system )
Mempertimbangkan alternative dan identifikasi apa yang harus dikerjakan. Dalam langkah ini ditetapkan jadwal dan tempat pelaksanaan dari masing-masing komponen instruksional. Ada 4 tahap dari perancangan Pembelajaran
1. Analisis Kegiatan ( Fuction analysis )
2. Analisis Komponen ( Component analysis )
3. Pembagian fungsi pada tiap komponen
4. Penjadwalan

· TAHAP V : Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil ( Implement and test output )
Desain yang telah dibuat diujicobakan ( dilaksanakan ). Selain itu dalam tahap ini perlu diadakan penilaian atas apa yang dilakaukan siswa agar dapat diketahui seberapa jauh siswa mampu mencapai hasil belajar
· TAHAP VI : Mengadakan Perbaiakan ( Change to improve )
Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik ( feed back ) untuk mengadakan perubahan-perubahan ( perbaikan ).

PENGEMBANGAN INSTRUKSIONAL MODEL BANATHY

Formulasi model belajar
Merancang
Sistem
Anaslisis Tugas
I III IV
Formulasi Analisis Tugas Merancang
model belajar Sistem

Implementasi dan Pengujian Hasil
Pengembangan Tes
II V
Pengembangan V
Tes Implementasi dan
Pengujian hasil

Perubahan Untuk memperbaiki Sistem
VI
Perubahan untuk memperbaiki sistem

KEKURANGAN DAN KELEBIHAN MODEL PERENCANAAN BANATHY
Menurut Rishe (handout), kekurangan dan kelebihan model perencanaan Banathy adalah:
o KELEBIHAN
– Berorientasi pada kemampuan siswa
– Pembelajaran berdasarkan pada analisis tugas
– Revisi didasarkan pada identifikasi kelebihan dan kekuatan implementasi
– Ada tiga aspek kompetensi ( kognitif, afektif, dan psikomotorik )
– Ada pengujian dan revisi system
o KEKURANGAN
– Tidak memberikan perhatian khusus pada proses pengembangan tes
– Tidak ada spesifikasi yang jelas tentang cara perancangan sistem

CONTOH PERENCANAAN PEMBELAJARAN MODEL BANATHY
Topik :Unsur-Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Puisi
Kompetensi Dasar : Siswa mampu mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu cerpen yang disampaikan secara langsung maupun melalui rekaman
Indikator Pembelajaran :
1. siswa mampu menjelaskan unsur-unsur cerpen, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsik
2. siswa mampu membuat cerpen
3. siswa mampu menganalisis cerpen, baik dari segi unsur maupun penggunaan bahasa
4. siswa mampu memberikan masukan mengenai cerpen yang dibuat teman
Alat evaluasi :
1. bentuk tes esai disampaikan secara lisan dan tulisan
2. soal
a. Jelaskan unsur-unsur puisi, baik unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik!
b. Buatlah sebuah cerpen!
c. Analisislah unsur-umsur dan penggunaan bahasa dan pembacaan!
d. Berikanlah masukan dan tanggapan terhadap cerpen teman!
Kegiatan dan pengalaman belajar
1. Pembelajaran dilakuakan di kelas atau di lab
2. Kegiatan: tugas, latuhan, diskusi, informatif.
3. Rincian pengalaman belajar:
a. siswa menonton dan mendengarkan pembacaan cerpen
b. siswa menentukan dan mendiskkusikan unsur-unsur cerpen
c. siswa melakukan latihan membuat cerpen
d. siswa saling bertukar puisi dan menanggapinya
e. penjelasan akhir dari guru
Materi pembelajaran :
Unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen

Sarana dan media :
TV, VCD player “ pembacaan cerpen”, buku teks pelajaran.
Melaksanakan pembelajaran
Revisi sesuai tahapannya

DAFTAR PUSTAKA

Harjanto. 2006. Perencanaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Dewi, L. Rishe Purnama . Handout Perencanaan Pembelajaran.

Iklan

Evaluasi Pembelajaran bahasa Indonesia

Oktober 24, 2008

EVALUASI PEMBELAJARAN

Pengantar
Proses pembelajaran merupakan suatu bentuk komunikasi, yaitu komunikasi antara subjek didik dengan pendidik (guru). Selama kegiatan pembelajaran, siswa mempelajari suatu materi, dan diharapkan ia dapat menguasainya. Untuk mengetahui kemampuan siswa, maka guru harus membuat evaluasi agar dari hasil evaluasi itu diketahui kekurangan dan kelebihan sebuah pembelajaran sejak awal hingga akhir pembelajaran tersebut. Makalah ini akan membahas enam hal, yaitu (1) pengertian evaluasi, (2) tujuan evaluasi, (3) karakteristik evaluasi, (4) teknik-teknik evaluasi, (5) strategi kontrol pengajaran, dan (6) macam-macam alat evaluasi.

I. Pengertian Evaluasi
Menurut Oemar Hamalik (2008:210), evaluasi merupakan suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai keputusan-keputusan yang dibuat dalam rancang suatu sistem pengajaran. Rumusan ini memiliki tiga implikasi: pertama, evaluasi ialah suatu proses yang terus-menerus, bukan hanya pada akhir pengajaran tetapi dimulai sebelum dilaksanakannya pengajaran sampai dengan berakhirnya pengajaran. Kedua, proses evaluasi senantiasa diarahkan ke tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan jawaban tentang bagaimana memperbaiki pengajaran. Ketiga, evaluasi menuntut penggunaan alat-alat ukur yang akurat dan bermakna untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan guna membuat keputusan. Evaluasi juga merupakan kegiatan mengukur dan menilai (Arikunto, 1993). Mengukur ialah kegiatan membandingkan sesuatu dengan satu ukuran, sedangkan menilai ialah mengambil sebuah keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik/buruk.

II. Tujuan Evaluasi
Evaluasi sangat penting dilakukan dalam proses pembelajaran. Tujuan diadakannya evaluasi adalah sebagai berikut:
1. mengetahui sejauh mana anak didik menguasai materi yang diberikan,
2. mengetahuai sampai sejauh mana kemampuan, keuletan, kemampuan anak didik terhadap materi pembelajaran,
3. mengetahui apakah tindakan kemajuan anak didik sesuai dengan tingkat kemajuan menurut program kerja, dan
4. mengetahui derajat efisiensi dan keefektivitasan strategi pembelajaran yang telah digunakan baik yang mencakup metode maupun teknik belajar-mengajar.

III. Karakteristik Evaluasi
Evaluasi yang baik adalah evaluasi yang dapat membantu anak mencapai tujuan proses belajarnya. Oleh karena itu, evaluasi yang baik harus memperahatikan hal-hal ini, yaitu:
1. validitas: alat evaluasi harus sahih yaitu mengukur apa yang hendak diukur dengan tepat,
2. reliabilitas: alat evaluasi harus andal yaitu alat evaluasi harus menghasilkan hasil ukur yang sama jika dipakai kapanpun dan dimanapun,
3. deskriminatif: alat evaluasi harus dapat menunjukkan hasil yang berbeda pada setioap siswa, dan
4. praktis: alat evaluasi harus praktis yaitu mudah digunakan.

IV. Teknik Evaluasi
a. Teknik-Teknik untuk Menilai Pengetahuan
Evaluasi akhir pengajaran terhadap ketercapaian tujuan-tujuan aspek pengetahuan (knowledge) perlu dilakukan secara terpisah. Untuk menguji pengetahuan dapat digunakan pengujian sebagai berikut.
1) Teknik penilaian aspek pengenalan (recognition)
Caranya, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan bentuk pilihan berganda, yang menuntut siswa agar dapat melakukan identifikasi tentang fakta, defenisi, dan contoh-contoh yang betul (correct)
2) Teknik penilaian aspek mengingat kembali (recall)
Caranya, dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka-tertutup langsung untuk mengungkapkan jawaban-jawaban yang unik.
3) Teknik penilaian aspek pemahaman (comprehension)
Caranya, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut identifikasi terhadap pernyataan-pernyataan yang betul dan yang keliru, konklusi, atau klasifikasi, dengan daftar pertanyaan matcing (menjodohkan) yang berkenaan dengan konsep, contoh, aturan, penerapan, langkah-langkah dan urutan dengan pertanyaan bentuk essay (open ended) yang menghendaki uraian, perumusan kemnbali dengan kata-kata sendiri dan contoh-contoh.
b. Teknik Evaluasi Akhir Pengajaran
Teknik-teknik evaluasi dilaksanakan pada akhir pengajaran yang mencakup evaluasi terhadap perilaku keterampilan (skilled performance) dan evaluasi terhadap aspek pengetahuan (knowledge). Perilaku keterampilan meliputi keterampilan kognitif, afektif, psikomotorik, reaktif, serta interaktif. Pengetahuan meliputi aspek-aspek pengenalan (recognition), ingatan (recall), dan pemahaman (comprehension).

V. Strategi Kontrol Pengajaran
Ada 3 pertanyaan yang perlu dijawab sebagai dasar pertimbangan dalam mendesain strategi control dalam kerangka system pengajaran, yaitu :
a) Bagaimana kita menentukan hasil-hasil pengajaran yang telah kita laksanakan? Pertanyaan ini berkenaan dengan masalah pengukuran hasil (output measures).
b) Faktor-faktor apa yang harus dikontrol jika pengajaran harus dihentikan? Pertanyaan itu berkenaan dengan control hasil pengajaran (output control).
c) Siapa yang membuat keputusan dan dasarnya apa, bahwa pengajaran hrus dimulai, diselenggarakan, dan dihentikan?
a. Pengukuran Hasil Belajar
Ada 2 pendekatan yang dapat digunakan dalam pengukuran hasil belajar siswa, yaitu :
a) Pendekatan acuan norma (norm referenced approach ) yaitu pendekatan yang bertitik tolakdari hasil-hasil belajar yang diharapkan secara normal, yang berdasarkan pada asumsi bahwa kurva distribusi normal yang menyajikan banyak karakteristik manusia juga banyak diterapkan dalam distribusi belajar suatu system instruksional.
b) Pendekatan acuan kriteria ( criterion referenced approach )yaitu pendekatan yang berdasarkan kriteria yang diinginkan agar dicapai oleh siswa dalam proses belajar. Ukuran-ukuran itu bukan berdasarkan pada ukuran kelompok, melainkan berdasarkan pada apa yang dicapai oleh siswa itu sendiri.
b. Pengontrolan hasil pengajaran
Control hasil adalah faktor-faktor yang mengontrol kapan dan bagaimana siswa dapat melaksanakan sistem. Faktor-faktor terdiri atas sebagai berikut :
a) Waktu dalam sistem : waktu turut menentukan hasil belajar siswa, halini sejalan dengan penggunaan pendekatan acuan norma. Jika penyediaan waktu lebih fleksibel maka hasilnya akan lebih merata dan memungkinkan siswa mendapat hasil belajar yang lebih baik.
b) Kebutuhan- kebutuhan individu siswa : kebutuhan individu siswa kadang- kadang digunakan sebagai kriteria untuk mengontrol hasil belajar. Itu berarti, jika hasil belajar menunjukkan kesesuaian dengan tujuan-tujuan yang berdeferensi tersebut, maka dapat ditafsirkan bahwa kebutuhan individu telah mendapat pertimbangan.
c) Penguasaan isi atau tujuan : penguasaan tujuan merupakan faktor logis dalam memilih kontrol hasil. Ketercapaian tujuan pengajaran merupakan kriteria dalam mengontrol produk belajar yang telah diperoleh.
c. Sistem kontrol
Ada 3 bentuk kontrol yang dapat dipadukan pelaksanaannya
1 ) Prescriptive control : control dilakukan terhadap semua option didalam rencana pengajaran secara keseluruhan, termasuk juga control terhadap langkah-langkah algoritmik dan kemungkinannya yang bakal terjadi dalam keseluruhan pengajaran.
2 ) Democratic control : bentuk ini berdasarkan pada konsep keikutsertaan pembuatan keputusan. Orang yang paling besar partisipasinya adalah siswa itu sendiri. Mereka membuat keputusan biasanya dipengaruhi oleh nasehat guru dan mungkin juga para pembimbing.
3 ) adaptive control : bentuk ini berdasarkan asumsi bahwa tidak semua hal direncanakan dan juga tidak semua hal dibebankan pada siswa. Keputusan dibuat secara sistematik, tetapi berpijak pada bagaimana performance siswa.

VI. Macam-Macam Alat Evaluasi
Secara umum alat evaluasi yang digunakan un tuk mengukur kemampuan siswa dibagi menjadi dua yaitu, tes dan non tes. Tes adalah alat atau teknik daloamj melakukan evaluasi yang berupa soal-soal yang dikerjakan peserta tes. Non tes adalah sebuah alat evaluasi yang berupa perintah dilakukan oleh peserta tes. Selanjutnya dijabartkan di bawah ini.

A. Tes
Secara umum, tes dibagi menjadi tiga :
1. Tes non verba
2. Tes lisan
3. Tes tertulis
Dilihat dari jumlah orang:
1. Perorangan
2. Tes kelompok
Dilihat dari segi pembuatannya:
1. Tes buatan : Tes yang dibuat oleh guru.
2. Tes standar : Tes yang telah distandarisasikan.
Dilihat dari bentuk :
1. Tes Uraian
Ada dua macam tes uraian:
1. Uraian terbatas: uraian yang menghendaki jawaban singkat.
Contoh: sebutkan unsure-unsur intrinsik novel
2. Uraian bebas: uraian yang menghendaki jawaban bebas.
Cntoh: menurut anda bagaimana perkembangan novel di Indonesia?
Kelebihan tes uraian.
1. Pembuatannya mudah
2. Dapat menilai kemampuan berpikir dan penyampaian gagasan siswa.
3. Kemungkinan menerka-nerka kecil
Kelemahan tes uraian:
1. Membutuhkan waktu lama untuk mengoreksinya.
2. Subyektifitasnya tinggi.
3. Pengoreksi hanya orang yang menguasai materi itu.
2. Tes obyektif
Tes onjektif mempunyai banyak macam yaitu:
1. B-S
Yaitu berupa pernyataan dan sisa di minta untuk memilih apakah pernyataan tersebut benar atau salah.
Contoh: Ronggeng Dukuh Paruk merupakan salah satu cerpen karya Ahmad Tohari.
Jawaban: S
2. Pilihan ganda
yaitu tes yang menghaduirkan beberapa pilihan dalam satu soal dan siswa diminta memilih satu jawaban yang paling benar. Tes ini mempunyai empat macam yaitu:
a. Distracturs, yaitu soal yang menghadirkan beberapa pilihan dan hanya ada satu jawaban benar, dan yang lain sebagai pengecoh.
Contoh:
Bunga dapat digolongkan sebagai kata….
a. sifat
b. benda
c. bilangan
d. kerja
Jawaban: B
b. Variasi negatif, yaitu soal yang mempunyai beberapa kemungkinan jawaban benar dan satu jawaban salah dan siswa diminta memilih jawaban yang salah tersebut.
Contoh:
Di bawah ini terdapat kalimat baku, kecuali….
a. aku sedang membeli obat di apotik
b. Dia tidak paham dengan apa yang aku katakan
c. Dokter Andi praktek di dekat rumahku
d. Nasehatku tidsak pernah dia dengar
Jawaban: A
c. Variasi berganda, yaitu soal yang semua jawabannya benar tetapi hanya satu yang sempurna.
Contoh:
Di bawah ini unsur intrinsik novel adalah….
a. alur, plot, latar
b. plot, perwatakan, alur
c. alur, latar, perwatakan
d. setting, latar, alur
Jawaban: C
d. Analisis hubungan antarhal, yaitu soal yang terdiri dari dua gagasan dalam satu pernyataan.
Contoh:
Pilihlah:
a, jika pernyataan benar, alasan benar, dan keduanya berhubungan
b, jika pernyataan benar, alasan salah, dan keduanya berhubungan
c, jika pernyataan benar, dan alasan salah
d, jika pernyataan salah dan alasan benar
e, jika pernyataan salah dan alasan salah
Soal: SIM disebut akronim karena merupakan singkatan yang berupa gabungan huruf, yang diperlakukan sebagai kata.
Jawaban: A
3. Isian singkat, yaitu soal yang berupa pernyataan yang tidak lengkap sehingga siswa harus melengkapinya.
Contoh:
Ide pokok yang terdapat pada akhir paragraph disebut paragraf….
Jawaban: induktif

4. Menjodohkan, yaitu soal yang berupa satu lajur soal dan satu lajur jawaban, dan siswa diminta untuk menjodohkan kedua lajur tersebut.
Contoh:
1. Pantun a. singkatan
2. ASI b. Unsur intrinsik
3. Skimming c. Puisi lama
4. –kah d. Karangan persuasi
5. Latar e. Partikel
6. Iklan f. Imbuhan
g. membaca sekilas
h. akronim
Jawaban:
1 – c
2 – h
3 – g
4 – e
5 – b
6 – d

5. Tes Rumpang
Yaitu tes yang berupa paragraf dan setiap kalimat terdapat kata yang dihilangkan, dan siswa diminta untuk mengisi kata-kata yang hilang tersebut.
Contoh:
Pertanian itu sangat penting dalam kehidupan. Kita dapat bertahan hidup (1) … petani yang menghasilkan (2)… makanan. Penelitian dalam bidang pertanian (3) … digalakkan. Namun, anehnya banyak orang (4) … meninggalkan bidang pertanian ini. Tenaga (5)… dalam bidang pertanian mulai (6)…. Oleh karena itu, bidang (7) … harus mendapatkan penanganan yang (8) ….
Jawaban:
1. berkat
2. bahan
3. juga
4. mulai
5. kerja
6. berkurang
7. pertanian
8. sungguh-sungguh.
Kelebihan tes objektif:
1. Mudah dalam pengoreksian
2. Pemberian skor mudah
3. Jawaban mutlak
4. Dapat dikoreksi oleh orang lain
5. Unsur subyektifitasnya kecil
Kelemahan tes objektif:
1. membuthkan waktu lama dalam pembuatannya
2. kemungkinan menerka-nerka sangat besar

B. Nontes
Dalam alat evaluasi nontes, juga terdapat beberapa macam kegiatan, misalnya:

1. Observasi: siswa diminta untuk melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap
suatu fakta yang diselidiki.
Observasi di bagi menjadi tiga:
a) langsung
b) tidak langfsung
c) partisipasi
2. Wawancara: siswa diminta untuk melakukan tanya jawab kepada narasumber yang mengetahui tentang gejala yang sedang diselidiki
3. Angket: siswa diminta untuk menuliskan tentang sikap dan pendapatnya berkaitan dengan pernyataan yang diajukan.
4. Skala sikap: digunakan untuk mengevaluasi sikap siswa.
5. Check list: yaitu dadftar yang berisi subyek dan aspek yang diamati. Jika aspek itu ada, beri tanda check (V)
6. Portofolio: memeriksa kumpulan hasil kerja siswa dalam suatu kurun waktu tertentu.

Penutup
Kegiatan evaluasi merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa, selain untuk mengadakan perbaikan. Oleh karena itu, kegiatan evaluasi hendaknya memperhatikan tujuan pembelajaran, karakteristik evaluasi, macam-macam alat evaluasi, teknik-teknik evaluasi, dan strategis kontrol pembelajaran.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsini. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta
Hamalik, Oemar. 2008. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Bumi
Aksara. Jakarta
Uno, Hamzah B. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Bumi Aksara. Jakarta

Hello world!

Oktober 24, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!